Minggu, 16 November 2008

HAKIKAT MANUSIA DAN KEHIDUPAN

I. Pengertian Hakikat
Hakikat disini bukanlah sebagaimana dalam pandangan ahlul tarekat yang membagi manusia menjadi 3 tingkatan : ma’rifat, syari’at dan hakikat. Yang mana jika manusia masih mengerjakan shalat maka dikatakan baru pada tingkat ma’rifat. Dan menurut mereka, tingkatan yang tertinggi adalah hakikat.
Sebagaimana pemahaman kita, jika ada seseorang yang tata cara shalat dan wiridnya tidak ada sumber/dalilnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka itu adalah bid’ah. Namun mereka (ahlul tarekat) menjawab bahwa memang benar jika hal itu dilihat/ditinjau dari sisi ma’rifat dan syari’at, tetapi jika ditinjau dari sisi hakikat, maka itu bukanlah bid’ah. Ini adalah hal yang sangat aneh dalam agama kita. Bahwa kata mereka sesungguhnya orang yang sudah sampai kepada tingkat hakikat itu sekalipun syari’atnya bertentangan dengan islam tidaklah masalah, karena ia sudah melalui tahapan itu.
Padahal kalau dikaitkan dengan pemahaman tentang hakikat, maka manusia yang paling memahaminya adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tapi beliau tidak meninggalkan syari’at. Bahkan beliau setiap malam melaksanakan Qiyamullail sampai kaki beliau bengkak. Dan ketika beliau ditanya kenapa “menyiksakan” dirinya untuk melakukan hal tersebut padahal Allah telah memberikan jaminan diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Maka jawab beliau :

“Tidakkah pantas kalau aku ini menjadi hamba yang bersyukur?”
Karenanya Islam mengajarkan, bahwa yang dimaksud dengan hakikat disini adalah memahami arti sebenarnya/esensi dari segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.
Sebagai contoh :
1. Dalam QS. 2 : 154

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Yang dimaksud dengan hidup disini adalah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, dimana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan disisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
2. Hakikat kekayaan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ
الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda : “Tidak disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa. “ (HR. Bukhari-Muslim)
3. Hakikat orang yang kuat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا
الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR. Bukhari-Muslim)
4. Hakikat kecantikan bukanlah sebagaimana kecantikan para selebritis, atau hakikat kepintaran bukanlah sebagaimana terlihat pada fisiknya (botaknya seorang professor).
Dengan demikian, tujuan dari kita mengetahui hakikat adalah agar kita memahami segala sesuatu supaya kita tidak tertipu. Namun seorang muslim memang tidak harus tahu hakikat dari segala sesuatu. Sebab sumber dari hakikat adalah Allah dan Rasul-Nya.

II. Hakikat Manusia
Siapakah manusia sesungguhnya menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya ?
a. Status Manusia
Manusia disisi Allah adalah sebagai salah satu ciptaan (makhluk) Allah. Sebagaimana dalam QS. 96 : 2

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. 2 : 21

Makna yang paling mendasar yang dapat diambil dari hal ini (manusia sbg makhluk) adalah bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sedangkan Allah Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan, keterbatasan atau kelemahan. Yang menunjukkan hal tersebut adalah ucapan “Subhanallah”, “Maha Suci Allah dari serba kekurangan dan keterbatasan”. Oleh karena itu tidaklah pantas manusia sebagai ciptaan untuk menyombongkan dirinya. Allahlah yang pantas untuk sombong, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna.
b. Unsur Penyusun Manusia/Potensi Penyusun Manusia
Manusia sebagai ciptaan disusun atas 3 unsur :
i. Jasad/Fisik
Bahan baku manusia ketika manusia pertama (Nabi Adam a.s) diciptakan adalah berasal dari tanah. Adapun hakikat tanah itu penuh kehinaan. Selanjutnya manusia keturunan Adam berasal dari air mani (air yang hina).
QS. 15 : 28-30
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.”

QS. 32 : 7-8
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
Mengapa manusia diciptakan dari tanah ? Padahal jika Allah mau, bisa saja manusia diciptakan dari emas. Namun hikmahnya adalah agar manusia tidak menyombongkan diri dengan menyebut asal kejadiannya/penciptaannya, sebagaimana iblis yang senantiasa mengungkapkan asal-usulnya dan membanggakan keturunannya. Sehingga jika ada manusia yang senantiasa membanggakan asal-usulnya maka ia memiliki sifat iblis.
QS. 15 : 31-33
“Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman : “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu ? Berkata iblis : “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
Sebenarnya manusia tidaklah dilihat dari asal-usulnya, tapi dilihat dari amalannya/ketakwaannya. Karena sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukannya karena asal-usul atau kecantikan/ketampanan. Jadi asal-usul atau kecantikan bukanlah indikasi kemuliaan seseorang dan bukan pula hal yang perlu kemudian dieksploitir.
ii. Ruh
Ruh adalah merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah.
QS. 32 : 9
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
QS. 17 : 85
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ruh kita membutuhkan dzikrullah agar hati kita menjadi tentram.
QS. 13 : 28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
Dan perumpamaan antara yang berdzikir dan yang tidak berdzikir adalah antara yang hidup dan yang mati.
iii. Akal
Akal diberikan oleh Allah agar digunakan untuk menuntut ilmu. Dengan akal, manusia memiliki ilmu yang digunakan untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Jadi jika seseorang senantiasa menuntut ilmu tapi tidak bisa mengantarkannya untuk mengenal mana yang haq dan yang bathil, maka ilmu tersebut tidak berguna baginya.
QS. 2 : 31-32
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! Mereka menjawab : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
QS. 16 : 78
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
c. Tugas dan Fungsi Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tugas beribadah kepada Allah, menjadi hamba Allah, mengabdi kepada Allah, bukan untuk bermain-main dan membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Manusia dituntut untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh ketundukan dan ketaatan.
QS. 51 : 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
QS. 2 : 21
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
Dan manusia diturunkan ke bumi untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
QS. 2 : 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan-kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
QS. 24 : 55
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,…”
Ayat ini menjelaskan bahwa dengan beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah; berkuasa di muka bumi. Dan menjadi khalifah bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, bahkan tugas ini sangat berat. Begitu beratnya sehingga apabila tugas tersebut diberikan kepada sebuah gunung, niscaya akan kita lihat gunung itu tuntuk terpecah-pecah disebabkan takutnya kepada Allah. (QS. 59 : 21).
Dalam QS. 33 : 72
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.”
Oleh karena itu manusia yang telah mengambil amanat ini dan menerima Al-Quran hendaknya mempelajari, memperhatikan dan melaksanakan semua ajaran tuntunannya dengan baik dan khusyuk dan senantiasa takut kepada Allah.
Sebagai khalifah/wakil Allah di muka bumi, manusia dituntut untuk menjalankannya berdasarka undang-undang Allah, memakmurkan bumi dan mengembangkan potensi yang ada di dalamnya untuk kesejahteraan umat manusia serta menyebarkan keadilan dan kemaslahatan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia yang hakiki dalam pandangan islam adalah manusia yang menyadari dirinya/statusnya sebagai ciptaan Allah dan menyadari serta mengaplikasikan tugasnya dihadapan Allah dalam bentuk ibadah. Manusia yang tidak menyadari status dan tugasnya inilah manusia palsu, yang diberikan berbagai predikat buruk oleh Allah. Betapa tidak, kita telah diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya sebagaiman di QS. 95 : 4


“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Berkata para mufasssirin : “Bentuk yang sebaik-baiknya itu ada dalam hal fisik juga dari segi akal dan kejiwaan.” Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Sejelek-jeleknya manusia, maka lebih canti atau tampan dari binatan yang paling tampan. Tetapi jangan kita terlena, manusia diciptakan dalam “bentuk sbaik-baiknya” bukan “sebaik-baik derajat”. Bukan


Karena sekalipun manusia sebaik-baik bentuk, ia bisa terjatuh derajatnya sebagaimana firman Allah dalam QS. 95 : 5


“Kemudian dia Kami jatuhkan ke derajat yang paling rendah”.
Jadi apalah artinya manusia itu cantik tapi dia tidak tunduk kepada syari’at, tidak melaksanakan shalat, maka orang ini sama dengan binatang. Hakikat amalannya sama dengan binatang yang tidak dibebani syari’at, tidak diberikan akal, bahkan dia bisa lebih rendah daripada binatang.
Sebagaimana disebutkan dibeberapa tempat di dalam Al-Quran :
1. QS. 8 : 22
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah oang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun”
Orang tuli adalah orang yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah, telinganya hanya digunakan untuk mendengarkan musik.
Dan orang yang bisu adalah orang yang tidak mau mengatakan kebenaran.
Ada 2 sebab seseorang tidak mengatakan kebenaran :
- Memang tidak tahu
- Tahu kebenaran itu tapi didominasi hawa nafsu.
Mereka inilah sejelek-jelek binatang melata yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
2. QS. 8 : 55
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.”
Orang yang tidak beriman adalah orang yang tidak beribadah kepada Allah. Pada hakikatnya ibadah adalah tunduk dan taat kepada syari’at Allah, kapada Al-Quran dan Sunnah, pada keyakinannya, hatinya, lisan serta perbuatannya. Intinya adalah tunduk dan patuh kepada Allah. Siapa yang membangkang kepada syari’at Allah maka dia tidak beribadah.
Allah telah mengatur, seluruh kehidupan ada syari’atnya. Sebagai contoh dalam hal pergaulan, ada yang syar’i, ada yang tidak syar’i. Yang tidak syar’i contohnya pacaran. Syari’at melarang pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram diluar pernikahan.
Orang-orang yang tidak mau menjalankan syariat inilah yang derajatnya bisa lebih rendah dari binatang.
3. QS. 7 : 179
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Allah telah dengan tegas memberi celaan yang sangat jelek bagi manusia seperti itu. Dan neraka jahannam dipenuhi oleh manusia palsu (dengan ciri-ciri seperti ayat di atas) dan jin. Selain manusia dan jin tidak ada makhluk lain yang masuk ke neraka. Tidak ada binatang yang masuk ke neraka, kalaupun ada bukan materi binatangnya yang disiksa tapi dia dijadikan penyiksa.
4. QS. 7 : 176
Manusia yang cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing.
5. QS. 5 : 60
Manusia yang dijadikan kera dan babi. Yang dimaksud adalah orang yahudi.
6. QS. 2 : 74
Manusia yang keras hatinya seperti batu.
7. QS. 63 : 4
Manusia seakan-akan kayu yang tersandar, maksudnya ialah untuk menyatakan sifat mereka yang jelek meskipun tubuh-tubuh mereka bagus dan mereka pandai bicara tetapi sebenarnya otak mereka kosong tidak dapat memahami kebenaran.

III. Hakikat Kehidupan
Tujuan utama dari memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya agar kita tidak tertipu oleh dunia.
Ada sebuah kaidah :
Fikrah akan melahirkan keyakinan, keyakinan melahirkan keinginan dan keinginan melahirkan sikap.
Fikrah diibaratkan input pada diri manusia, sikap kita adalah outputnya.
Sikap ada 2:
- Islamiy
- Jahiliy
Sikap tergantung pada input-inputnya (pola pikirnya). Dan pola pikir terbentuk dari apa yang banyak dilihat, didengar dan dialami. Sehingga bagaimana seseorang menyikapi kehidupan ini tergantung dari pola pikirnya, dari apa yang dilihat, didengar dan dialaminya.
Sebagaimana QS. 14 : 2-3, menunjukkan perbedaan orang kafir dengan orang beriman yang paling menonjol adalah sikap mereka terhadap dunia.
Orang kafir sangat mementingkan dunia daripada akhirat (hubbuddunya). Dan ciri-ciri orang yang cinta dunia adalah kikir, segalanya diukur dengan materi, boros dan takut mati. Sebab dari hubbuddunya ini adalah karena dia tidak paham akan hakikat kehidupan.
Hakikat kehidupan terbagi 2 :
1. Kehidupan dunia
a. Makna dunia dari segi bahasa
- (dekat/singkat)
QS. 67 : 5
Sesuatu yang dekat tidak memerlukan pengorbanan untuk meraihnya.
- Hina
Hadits Jibril ra ….. (Riyadhus Sholihin Bab Zuhud Hadits no.8)
b. Ujian
QS. 67 : 2
Dunia beserta isinya adalah ujian.
c. Fatamorgana
QS. 14 : 18
Orang-orang kafir amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras
d. Dilaknat
Hadits dari Abu Hurairah ra
(Riyadhus Shalihin Bab Zuhud Hadits no. 22)
e. Sifat-sifat dunia
QS. 57 : 20
Allah mengabarkan di dalam ayat ini tentang hakikat dunia, yaitu :
 permainan
 senda gurau
 perhiasan
 bermegah-megahan
 berbanyak-banyakan
QS. 3 : 185 Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayai. Sekiranya dunia ini berharga
2. Kehidupan akhirat
Sifat kehidupan akhirat :
1) Kesengsaraan yang kekal
QS. 11 : 106-107 Orang-orang yang celaka tempatnya kekal di neraka.
2) Kesenangan yang kekal
QS. 11 : 108 Orang yang berbahagia tempatnya kekal di surga.
Maka kehidupan akhirat inilah kehidupan yang hakiki/yang sebenarnya. Dimana manusia kekal di dalamnya.
QS. 29 : 64
“… Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan…”


By Muh.Qasim Saguni

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar