Kiblatku

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.(QS.3 : 96) .

Makkah Al Mukarramah

Ahli Kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitulmakdis, oleh karena itu Allah membantahnya.

Jumat, 28 November 2008

Sambungan

Sambungan



Bersambung.....

TEGAKKAN SYARI'AT HAPUS PRAKTEK PERDUKUNAN (Artikel di Harian Ujung Pandang Ekspres)



Bersambung....

TIM RUQYAH WAHDAH ATASI KESURUPAN DI SMA 16 (Berita di Harian Tribun Timur)

KEJUJURAN MEMBAWA KETENANGAN (Tulisan di Harian Fajar)

Rabu, 26 November 2008

SYEKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN (ULAMA PEMERSATU UMMAT DAN DA'I TELADAN)

Oleh : Muhammad Kasim Saguni
MAHASISWA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR
TAHUN 1425 H/2005 M

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam memahami dan memperjuangkan Islam sekarang ini, ummat Islam terpolarisasi dalam beberapa kelompok, jama'ah, organisasi, yayasan, lembaga dan harakah. Sebutlah yang terbesar dan terkenal sebagaimana yang disebutkan sebagian dalam buku "Al Mausu'ah Al Muyassarah Fi Al Ad-Yaan wa Al-Madzahib Al Mu'ashirah" yang diterjemahkan oleh A. Najiyulloh kedalam bahasa Indonesia dengan "Gerakan Keagamaan dan Pemikiran"(Akar Idiologis dan Penyebarannya) antara lain adalah: Al-Ikhwan Al Muslimun, Jama'ah At-Tabligh, Hizb Al-Tahrir, Jama'at Islami, Jama'ah Al Anshar Al-Sunnah Al Muhammadiyah, Jama'ah Salafiyyah, Yayasan Al Haramain Al Khairiyyah, Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Zaidiyah. Itu dalam tataran dunia, sedangkan dalam skop nasional di Indonesia, adalah Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Irsyad, Persis, Wahdah Islamiyah, Islam Jama'ah (LDII), Jaringan Islam Liberal (JIL) dan lai-lain. Kelompok-kelompok dan jama'ah-jama'ah ini jika tidak terarahkan dengan baik dan bijak oleh pemimpin-pemimpinnya, maka sangat rentan terjadinya konflik.
Memahami kondisi realitas ummat Islam seperti yang digambarkan di atas, maka dunia Islam sangat merindukan lahirnya sosok Ulama (cukup mapan dalam ilmu syar'i) yang kharismatik dan bijaksana dalam mengarahkan dan mengayomi ummat ini menuju persatuan.
Disisi inilah peran sosok Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullahu Ta'ala, seorang Ulama di jazirah lahirnya Islam Saudi Arabia, beliau adalah Ulama dan Da'i yang sangat terkenal di dunia Islam, sangat gigih dan tekun berda'wah, berfatwa serta menyebarkan ilmunya kepada ummat.
Beliau tergolong Ulama yang hidup di abad kebangkitan Islam (abad 14 Hijriyah) bersama beberapa Ulama lainnya yang terkenal, seperti Syekh Abdul Aziz Bin Baz dan Syekh DR.Yusuf Al-Qardhawy. Sekalipun ummat cinta dan masih sangat butuh kehadirannya, namun Allah Azza Wajalla lebih mencintainya dan memanggil keharibaanNya pada tahun 1421 H/ 2001 M di usia 74 tahun.

B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka terdapat beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1. Mengenal Biografi Syekh Al Utsaimin
2. Pemikiran Syekh Al Utsaimin dalam memelihara persatuan ummat
3. Keteladanan beliau dalam da'wah

II. PEMBAHASAN
A. Biografi Syekh Al Utsaimin
Nama lengkap dan nasab beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wahibi At Tamimi. Beliau dilahirkan di kota Unaizah pada tanggal 27 bulan Ramadhan tahun 1347 H di dalam lingkungan keluarga yang terkenal beragama dan istiqamah.
Beliau belajar Al Quran kepada kakeknya dari jalan ibu, Abdurrahman bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah, dan beliau menghafalkan Al Qur'an 30 juz. Kemudian beliau menuntut ilmu, belajar menulis , berhitung, dan ilmu sastra. Beliau dikaruniai oleh Allah kecerdasan, dan semangat yang tinggi untuk mendalami ilmu lewat para Ulama yang terkenal di masanya. Karena itu Syaikh Abdurrahman As Sa'di menempatkan dua orang muridnya di kediamannya untuk mengajar beliau, yang seorang bernama Syekh Ali Ash Shalihi dan seorang lagi Syekh Muhammad bin Abdul Azizi Al Muthawi, yang kepadanya beliau belajar Mukhtasar Aqidah Wasithiyah tulisan Syekh Abdur Rahman As Sa'di dan Minhajus Salikin fil Fiqhi tulisan Syekh Abdurrahman juga, demikian pula Jurumiyah dan Alfiyah. Beliau belajar Faraidh dan Fikih kepada Syekh Abdurrahman bin Ali bin Audan.
Beliau belajar kepada Syekh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di yang beliau anggap sebagai syekhnya yang pertama. Karena Al Utsaimin belajar kepada beliau tentang tauhid, tafsir, hadits, fikih, ushul fikih, faraidh, musthalah hadits, nahwu dan sharaf. Beliau mempunyai kedudukan khusus di sisi gurunya . Ketika ayah beliau syekh Muhammad Rahimahullah pindah ke Riyadh pada masa awal remaja beliau, beliau ingin ikut pindah bersama orang tuanya. Maka syekh Abdur Rahman As Sa'di menulis surat kepada ayah beliau "Sungguh ini tidak mungkin, kami ingin agar Muhammad tetap di sini supaya bisa terus belajar". Beliau berkata "Saya banyak terpengaruh oleh gaya syekh Abdurrahman dalam mengajar, memaparkan ilmu, dan memberikan pendekatan kepada siswa melalui contoh-contoh dan ilustrasi. Saya juga terpengaruh oleh akhlak beliau karena beliau memiliki keluasan ilmu dan ibadah. Beliau biasa mencandai anak-anak, tertawa dengan orang yang besar dan berakhlak yang paling baik diantara orang-orang yang pernah saya lihat.”
Al Utsaimin selanjutnya belajar kepada Syekh Abdul Azis Bin Abdullah bin Baz (Syekh Bin Baz) yang merupakan syekh beliau yang kedua. Beliau belajar dari Syekh Bin Baz tentang Shahih Bukhari, beberapa risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa kitab fikih. Beliau berkata :" Saya terpengaruh oleh syekh bin Baz dari segi perhatian terhadap hadits. Saya juga terpengaruh oleh beliau dalam segi akhlak dan sikap lapang dada beliau terhadap manusia."
Pada tahun 1317, beliau mulai mengajar di Masjid Jami' . Ketika beberapa ma'had ilmi dibuka di kota Riyadh, beliau memasukinya pada tahun 1372 H. Beliau berkata : "Saya memasuki ma'had ilmi mulai tahun kedua. Saya memasukinya dengan persetujuan syaikh ali ash shalihi dan telah meminta ijin kepada syaikh abdurrahman As Sa'di. Mahad ilmi pada masa itu dibagi 2 bagian, yaitu bagian umum dan khusus. Saya berada di bagian khusus. Pada masa itu, siapa yang menginginkan melompat artinya belajar di kelasnya sesuai ijazah terakhirnya, kemudian diuji pada awal tahun pelajaran kedua. Jika ia lulus maka ia bisa mengikuti kelas atasnya. Dengan demikian, masa belajar menjadi lebih pendek." Dua tahun kemudian beliau lulus dan ditetapkan sebagai pengajar di Ma'had Unaizah Al Ilmi sambil melanjutkan kuliah jarak jauh di fakultas syariah dan belajar kepada syekh Abdur Rahman As Sa'di.
Ketika syaikh Abdur Rahman As Sa'di wafat, beliau diserahi kedudukan imam Masjid Jami' Al Kabir Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah di samping mengajar di fakultas syariah dan fakultas ushuluddin di cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud di Qashim, dan menjadi anggota Majelis Ulama Besar di Kerajaan Saudi. Syekh mempunyai aktivitas besar dalam dakwah dan pembimbingan para da'i di berbagai tempat. Pernah Syekh Muhammad bin Ibrahim menawari bahkan mendesak beliau untuk menduduki jabatan sebagai hakim, bahkan mengeluarkan keputusan yang menetapkan beliau untuk menjabat sebagai pimpinan pengadilan agama di Ihsa'. Namun beliau memohon dibebaskan dari tugas tersebut. Dan setelah memberikan berbagai pertimbangan dan mengadakan hubungan pribadi dengan syekh Muhammad bin Ibrahim, syekh Muhammad dibebaskan dari jabatan tersebut. Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mempunyai banyak karya tulis, sampai sekitar 40 buah, di antaranya berupa kitab dan risalah. Insya Allah semua karya beliau akan dikodifikasikan menjadi satu kitab dalam Majmu'ul Fatawa war Rasa'il.
Beliau wafat pada tanggal 15 Syawal 1421 H/10 Januari 2001 M, Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin meninggal dunia waktu ashar di jeddah, Saudi Arabia, beliau mengidap penyakit kanker.

B. Pemikiran Syekh Al Utsaimin Dalam Memelihara Persatuan Ummat
Salah satu karya beliau yang paling banyak memuat pemikiran-pemikiran tentang persatuan Ummat adalah Al Shahwah Al Islamiyah, Dhawabit Wa Taujihaat , diantara pemikiran-pemikiran itu adalah sebagai berikut:
1. Tatkala beliau ditanya tentang fenomena di sebagian negara-negara kaum muslimin dengan adanya berbagai partai dan jama'ah Islam, seperti Jama'ah Ikhwanul Muslimin, Jama'ah Salafiyyun, Jama'ah Tabligh dan yang lainnya. Dan masing-masing jama'ah saling merendahkan dan mencela saudaranya, bahkan terkadang mengkafirkan dan menghukum fasiq satu sama lain. Maka beliau memberikan penjelasan sebagai berikut:
Sangat disayangkan sekali bila kita melihat saudara kita kaum muslimin terdapat ekstrimitas dalam memegang madzhab yang mereka jalani, karena ummat Islam berkewajiban menjadi ummat yang satu. Allah SWT berfirman dalam Q.s.al-Mu'minuun,23: 52

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُون

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku."

Allah juga berfirman kepada Nabi SAW dalam Q.s.al-An'am, 6:159 sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat"

Allah SWT selanjutnya berfirman dalam Q.s.al-Syura,42:13, yang artinya :

"Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya)."

Maka inilah dasar Islam : yaitu agar umat Islam itu bersatu di atas agama Allah. Adapun perpecahan yang berkonsekwensi penyesatan atau pemfasikan atau pengkafiran orang lain ini, sama sekali tidak dibolehkan.
Dan saya katakan : Setiap insan itu mungkin terjatuh dalam kesalahan,
"Setiap bani Adam adalah suka berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat."
(HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimy yang dihasankan oleh Syekh Al Al-Bany dalam Shahihul Jami').

Artinya adalah orang-orang yang bertaubat dari kesalahan mereka. Sehingga jika kita melihat ksalahan dari salah satu jama'ah itu maka kewajiban atas kita adalah membicarakannya dengan mereka sampai kita dan mereka bersepakat di atas kalimat yang sama serta menjelaskan kesalahan ini. Dant idak menjadikan kesalahan ini sebagai jalan untuk mencela mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia (untuk mengambil faidah) dari mereka.
Jama'ah-jama'ah yang disebutkan oleh sang penanya itu haruslah menjadi satu jama'ah (yang berjalan di atas) Kitabullah dan Sunnah RasulNya, sebagaimana Nabi SAW bersabda, yang artinya:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضً
"Orang mukmin itu bagi orang mukmin lainnya laksana sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."(HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga yang kurang disempurnakan oleh yang telah sempurna, dan yang kurang hendaknya berterima kasih kepada yang telah sempurna jika ia menjelaskan kesalahannya.
Adapun jika (yang terjadi justru) saling membuat orang lari antara satu sama lain, saling mencela satu sama lain dan saling memfasikkan satu dengan yang lain, maka ini menyelisihi apa yang dibawa oleh Islam.
Anda sekalian mengetahui bahwa Islam memerangi setiap apapun yang dapat mengakibatkan perceraiberaian dan perpecahan. Nabi SAW bersabda :
لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
"Janganlah kalian saling membenci dan janganlah saling membelakangi dan jangan saling menawar barang yang telah ditawar oleh yang lain, dan janganlah kalian membeli barang yang telah dibeli oleh orang lain, dan jadilah kalian para hamba Allah yang bersaudara (karena) seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain." (HR.Muslim dari Abu Hurairah)

Inilah jalan Islam yang harus dijalani oleh kaum muslimin.
Saya juga mengatakan : jama'ah-jama'ah ini harus saling merujuk di antara mmereka serta menjelaskan kepada yang lain jika ia salah dan mengajaknya berdiskusi dalam masalah itu. Karena bisa jadi kesalahan justru ada pada orang yang memandang (saudaranya) salah. Sehingga kita dapat menjadi umat yang satu saling mencintai, menyayangi, menolong dan saling menyempurnakan satu dengan yang lain.
2. Beliau juga berpendapat bahwa tidak sepantasnya ummat dipecah-belah dengan mengatakan ini Ikhwani, ini Tablghi dan ini adalah Salafi . Beliau menyalahkan para aktifis yang berbuat seperti itu.
3. Pada saat yang lain beliau ditanya tentang sikap terhadap Jama'atut Tabligh (beberapa aktifis pemuda menghukum sesat dan ahlul bid'ah), yang menjalankan da'wah kepada Allah namun para pengikutnya pada akhirnya dibawa kepada ajaran tasawwuf dan memberikan bai'at kepada sang amir serta membaca dzikir-dzikir yang bersifat bid'ah. Beliau menjawab:
"Sikap seorang penuntut ilmu terhadap da'wah yang lahiriyahnya menunjukkan keshalihan dan perbaikan, hendaknya menyambutnya selama lahiriahnya menunjukkan kebaikan, akan tetapi ia berkewajiban memperbaiki kesalahan yang terdapat di dalamnya serta menjelaskan kekeliruan yang ada di dalamnya. Diantaranya adalah kewajiban memba'iat salah seorang dari mereka jika menjadi amir dan bukan waliyul amri.Adapun mengangkat salah satu dari mereka sebagai amir jika mereka keluar dari sebuah rihlah atau keluar dalam suatu perjalanan maka hal ini adalah termasuk ajaran syari'ah, karena Rasulullah SAW telah memerintahkan mereka yang dalam perjalanan – dan mereka dalam keadaan berjamaah - untuk mengangkat amir bagi mereka, karena sebuah jama'ah tanppa ada seseorang yang mengarahkan dan mengatur niscaya urusannya akan menjadi kacau. Sebagaimana dikatakan oleh penyair :
"Tidak dibenarkan manusia itu kacau tanpa ada yang memimpin mereka."
Adapun mengangkat seorang pemimpin yang mereka bai'ati sebagai waliyul amri mereka dan bukan waliyul amri yang telah diwajibkan untuk mena'atinya oleh Allah, dan yang telah diwajibkana tas kita untuk loyal dan menolongnya dalam Al-Haq, maka hal itu tidak dibolehkan.
Memang terdapat orang-orang berda'wah ke jalan Allah yang lahiriahnya shalih namun mereka memiliki sisi yang menyimpang dari yang dibawa Nabi, maka mereka harus kita manfaatkan seperti keluar bersama mereka, menyertai dan melihat apa yang mereka lakukan, apabila kita menemukan mereka berada di atas kebatilan, kita pun menjelaskannya kepada mereka. Jika mereka mendapat petunjuk kepada Al-Haq dan kembali kepadanya maka inilah yang kita inginkan. Namun jika mereka bersikeras atas apa yang mereka jalani maka wajib menjauhi mereka serta menjelaskan kepada umat tentang kesesatan yang mereka jalani agar manusia tidak tertipu dengan penampilan lahirian mereka."

4. Beliau tidaklah berarti latah dalam membela jama'ah-jama'ah da'wah yang dicela tetapi tetap istiqamah juga didalam menasihati dan mengeritik jama'ah-jama'ah tersebut. Hal ini bisa dilihat dari nasihat dan kritikan beliau terhadap Jama'ah Tabligh dalam beberapa hal, antara lain:
a. Kurangnya ilmu pada kebanyakan pengikut-pengikutnya, karena mempelajari/membaca satu kitab saja (Fadhail Al A'mal) padahal banyak kitab yang penting yang harus dibaca dan dipelajari yang merupakan warisan para Ulama.
b. Mereka pergi keluar negeri, kepada kaum yang merupakan pelaku khurafat, dan bahwa pemimpin rombongan ini ada yang terjatuh dalam perbuatan khurafat itu.
c. Mereka memandang bahwa keutamaan jihad fi sabilillah dapat dicapai dengan khuruj , hal ini adalah sesuatu yang tidak benar, karena ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang jihad fi sabilillah tidak lain dimaksudkan untuk jihad melawan orang-orang kafir. Adapun jihad fi sabilillah dengan khuruj dapat dikategorikan fi sabilillah secara umum, karena sabilillah digunakan untuk dua makna, umum dan khusus. Sehingga nash-nash yang menyebutkan tentang keutamaan para syuhada', keutamaan pedang dan infaq untuk jihad itu tidak lain dimaksudkan untuk jiad yang berupa perang melawan musuh-musuh.
5. Syekh Al Utsaimin juga banyak memberikan nasihat dan arahan kepada para aktifis Islam untuk bersabar menghadapi berbagai serangan maupun tudingan. Diantaranya beliau bernasihat:
”Tidak mungkin kita menyumbat mulut manusia. Maka setiap harakah Islamiyah dan kebangkitan pastilah akan dilawan oleh orang yang tidak menghendaki kebenaran, karena Allah telah berfirman dalam kitabnya di surat Al Furqan (25):31, yang artinya:

"Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong."

Dan ambillah contoh yang dekat: Dahulu Rasulullah SAW sebelum diberi wahyu bersama dengan kaum Quraisy dalam posisi aman dan dipercaya, namun ketika Allah mewahyukan kepadanya beliaupun berubah (dituduh) menjadi seorang pendusta yang gila dan penyair, dan merekapun melempari beliau dengan segala macam aib.
Maka setiap harakah dan kebangkitan Islamiyah pasti akan mempunyai musuh-mush yang akan menegakkan perlawanan. Maka saya tidak bisa mengatakan bahwa fenomena ini dapat diberantas, akan tetapi saya (hanya dapat) mengatakan: hendaknya para pendukung kebaikan senantiasa bersabar dan berihtisab (mengharapkan pahala) serta membela diri sesuai dengan kemampuan, dan tentu saya menginginkan agar mereka berada dalam posisi yang kuat."

C. Keteladanan Syekh Al Utsaimin Dalam Berda'wah
Da'wah ke jalan Allah merupakan salah satu amalan Islam yang memiliki banyak sekali keutamaan. Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya Al Hirshu 'Ala Hidayatin Nas Fi Dhau'in Nushush wa Siyaris Shalihin menguraikan enam keutamaan bagi orang orang yang berda'wah di jalan Allah (Da'i), yaitu:
1. Da'i adalah sebaik-baik manusia dalam perkataan (Lihat QS.Fushshilat: 33)
2. Nabi SAW mendo'akan orang-orang yang menyampaikan ilmunya kepada orang lain (Sunan Ibnu Majah, 1/49, hadits no.244, dengan tahqiq Dr. Al-A'zhamy. Syekh Al-Al Bany dalam Shahihul Jami' mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits shahih).
3. Allah SWT memberikan pahala besar bagi orang yang menjadi sales (perantara) seseorang dalam mendapatkan petunjuk (Shahihul Bukhary, Kitabul-Maghazy, 7/476, hadits nomor 4210)
4. Pahala seorang da'I seperti pahala orang yang mengamalkan pesan-pesannya (Shahih Muslim, Kitabul Imarah, 3/1506, hadits nomor 1893)
5. Rahmat Allah akan tercurah dan do'a penghuni langit dan bumi bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (Shahih At tirmidzy, Abwabul Ilmi, 2/343, hadits nomor 2159)
6. Pahala seorang da'i akan tetap mengalir sekalipun sudah meninggal dunia (HR.Muslim dari Abu Hurairah).
Syekh Al Utsaimin Rahimahullah menghayati betul keutamaan-keutamaan di atas, karena itu beliau sangat gigih dan ulet mengamalkannya (berda'wah, mengajar dan berfatwa) sampai sakit sekalipun beliau tetap berda'wah dari rumah sakit dengan menyambung microfon dari rumah sakit ke Masjidil Haram.
Berdasarkan kesaksian beberapa orang alumni mahasiswa Universitas Madinah Al Munawwarah yang sempat penulis wawancarai, mereka menuturkan beberapa fakta keuletan, kegigihan dan kesungguhan beliau dalam berda'wah, berfatwa dan mengajar, antara lain:
1. Beliau memiliki dars (pelajaran) rutin di Masjid Jami' Unaizah setiap hari, berlangsung sore selesai shalat Ashar. Perlu diketahui bahwa dars ini sudah berlangsung lama dan beliau ke masjid dengan berjalan kaki kurang lebih satu km dari kediaman beliau sampai di usia tujuh puluhan.
2. Setiap bulan Ramadhan selama sebulan penuh, beliau memberikan dars di Masjidil Haram Makkah setiap malam dimulai setelah shalat tarwih pertama sampai menjelang shalat tarwih kedua sekitar jam 24.00. Beliau melanjutkan lagi darsnya setelah shalat fajr sampai pagi menyingsing. Salah satu buku beliau berjudul Majalis Syahri Ramadhan adalah merupakan kumpulan ceramah-ceramah beliau di bulan Ramadhan di Masjidil Haram.
3. Beliau juga rutin mengisi acara Nurun 'Ala Al-Darb, sebuah acara tanya-jawab berdurasi 30 menit (jam 21.30 sampai 22.00) di salah satu radio di kota Riyadh. Acara ini juga sudah berlangsung bertahun-tahun.
4. Syekh Al Utsaimin berda'wah dan berfatwa juga lewat internet, salah satu situs beliau yang terkenal adalah www.ibnothaimeen.com yang dibuat oleh murid-murid beliau.
5. Selain itu banyak sekali ceramah-ceramah beliau Rahimahullah tersebar dalam bentuk kaset dan Compact Disk (CD).
Kehidupan beliau selain terkenal sederhana, juga terkenal pemurah dan dermawan. Dituturkan pula bahwa biaya kontrak rumah para murid-muridnya dibayar sendiri oleh beliau. Ketika ada yang bertanya kepada beliau, maka sangat diperhatikannya sampai sipenanya selesai mengemukakan pertanyaannya.

III. KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Syekh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin (Syekh Al Utsaimin) lahir di lingkungan keluarga yang memegang teguh agama, dan menghabiskan seluruh umurnya untuk menuntut ilmu dari para Ulama, berda'wah, berfatwa dan memberikan pelajaran. Hidupnya Insya allah penuh berkah bagi dirinya dan ummat selama 74 tahun (1347 – 1421 H).
2. Beliau sangat menginginkan persatuan ummat dan sangat membenci perpecahan, dengan menghujat, mencela dan memfonis jama'ah-jama'ah lainnya yang masih berpegang pada manhaj (pola pemahaman) Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
3. Syekh Al Utsaimin merupakan sosok Ulama dan Da'I teladan bagi ummat ini.Beliau telah membuktikan keuletan, kesungguhan dan kegigihannya dalam berda'wah memandu dan mengarahkan kebangkitan ummat Islam (Al Shahwah Al Islamiyah).

Semoga Allah Ta'ala merahmati beliau, membalas segala amal kebaikannya dengan syurga jannatun na'im, serta ilmunya bermanfaat bagi ummat.Aamin

Wallahu Ta'ala A'lam


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al- Karim dan Terjemahannya Ke Dalam Bahasa Indonesia (Di bawah Pengawasan Perwakilan Bagian Percetakan dan Penerbitan Pada Kementrian Agama, Wakaf, Da'wah, Dan Bimbingan Islam Riyadh Kerajaan Saudi Arabia)

Al- Sa'di, Abdurrahman bin Nashir,"Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsiri Kalaammi Al Mannan", Cet.I; Riyadh: Maktabah Al Ma’arif Li Al Nasyr Wa Al Tawzi’, 1420 H/1999M

Al Utsaimin, Muhammad Bin Shalih, Al Shahwah Al Islamiyah, Dhawabit Wa Taujihaat, Cet.III; Riyadh: Daar Al Qaasim Li An Nasyr, 1416 H

Ilahi, Fadhl, Al Hirshu 'Ala Hidayatin Nas Fi Dhau'in Nushush wa Siyaris Shalihin diterjemahkan oleh Kathur Suhardi dan Munirul Abidin dengan judul "Menggugah Semangat berdakwah", Cet.I; Hasanah Ilmu, Desember 1994.

Ibn Abdil Maqshud,Abu Muhammad Asyraf, Fatawa Al Mar'ah Al Muslimah diterjemahkan oleh Muhammad Ihsan Ibn Zainuddin dengan judul Fatwa-fatwa Muslimah, Cet.I; Darul Falah, Dzulqa'dah 1421H.

Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI, Al Mausu'ah Al Muyassarah Fi Al Ad-Yaan wa Al-Madzahib Al Mu'ashirah" yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Najiyulloh dengan judul "Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Idiologis dan Penyebarannya)", Cet.I; Al-Ishlahy Press, 1993

WebSitewww.alsofwah.or.iddanhttp://gesah.net/mag/modules.php?name=News&file=article&sid=205 sebuah situs berjudul Mausu'ah AlQashash Al Waqi'iyah

LAFADZ AL MUTHLAQ DAN AL MUQAYYAD


Oleh :Muhammad Kasim Saguni
Disampaikan dalam Seminar Kelas
MK Pendekatan Dalam Pengkajian Islam II
Semester Akhir T.A. 2004-2005
Program Studi Magister Pengkajian Islam
Angkatan XVI. PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR. Tahun 1425 H/2005 M

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam mengkaji Islam, salah unsur yang sangat penting digunakan sebagai pendekatan adalah Ilmu Ushulul Fiqh, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syari'at yang bersifat amaliyah, yang diperoleh melalui dalil-dalil secara rinci. Melalui kaidah-kaidah ushul fiqh akan diketahui nash-nash syara' dan hukum-hukum yang ditunjukkannya. Dengan ushul fiqh dapat dicarikan solusi untuk menyelesaikan dalil-dalil yang kelihatan kontradiksi satu sama lain.
Dengan adanya perangkat ushul fiqh maka syari'at Islam akan membuktikan dirinya sebagai syari'at yang akan berlaku sepanjang masa, dan tidak akan hilang ditelan zaman. Demikian pula syari'at Islam akan cocok diamalkan oleh segala etnis dan bangsa apa saja di dunia ini. Karena ruh dari ushul fiqh adalah fleksibilitas dan kemudahan.
Diantara kaidah-kaidah ushul fiqh yang penting diketahui adalah Lafadz Al Muthlaq dan Al Muqayyad.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka terdapat beberapa masalah yang perlu dibahas, yaitu :
1. Apakah yang dimaksud dengan al muthlaq dan al muqayyad ?
2. Bagaimana hukum al muthlaq dan al muqayyad ?
3. Membawa al muthlaq kepada al muqayyad, dan apa saja syarat-syaratnya?

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Lafadz Al Muthlaq dan Al Muqayyad
1. Pengertian Lafadz Al Muthlaq
Apabila kita selidiki secara seksama tentang keadaan tiap-tiap lafadz yang dipandang dari segi dibatasinya atau tidak lafadz itu, maka ada yang keadaannya bebas dan tidak dibatasi penggunaannya oleh hal lain (muqayyad). Hal-hal yang membatasi lafadz itu disebut Al-Qayd. Oleh karena itu, berbicara tentang muthlaq terkait pula masalah muqayyad dan Al-Qayd.
Kata muthlaq secara bahasa, berarti lawan muqayyad (tidak terikat dengan ikatan atau syarat tertentu). Secara istilah, lafadz muthlaq didefinisikan sebagai lafadz yang menunjukkan arti yang sebenarnya tanpa qayd (dibatasi) oleh suatu hal yang lain.
Contoh lafadz muthlaq dalam nash ( Al Qur'an) dapat diamati dari lafadz raqabah yang terdapat dalam firman Allah surat al-Mujadilah, 58:3:
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini menjelaskan tentang kaffarat zihar bagi suami yang menyerupakan isterinya dengan ibunya dengan memerdekakan budak. Ini dipahami dari ungkapan ayat "maka merdekakanlah seorang budak" mengingat lafadz raqabah (budak) merupakan lafadz muthlaq, maka perintah untuk membebaskan budak sebagai kaffarat zihar tersebut meliputi pembebasan seorang budak yang mencakup segala jenis budak, baik yang mukmin atau yang kafir. Pemahaman ini didukung pula pemakaian kata raqabah pada ayat di atas merupakan bentuk nakirah.
Contoh lafadz muthlaq lain dapat ditemukan pada firman Allah surat al-Nisaa, 4: 43 :
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun.

Mengusap tangan dengan debu, dalam ayat ini tidaklah dibatasi dengan sifat syarat dan sebagainya, artinya tidak diterangkan sampai di mana, apakah semuanya diusap atau sebagiannya. Yang jelas dalam tayammum itu harus mengusap tangan dengan debu dan tidak dibatasi bagian mana saja asalkan bagian tangan.
Dilihat secara sepintas lafadz muthlaq mirip dengan lafadz 'aam, tetapi sebenarnya antara keduanya berbeda. Pada lafadz 'amm keumumannya bersifat syumuliy (melingkupi), sementara keumuman lafadz muthlaq bersifat badali (menggantikan). Umum yang syumuliy ialah kulliy (keseluruhan) yang berlaku atas satuannya, sementara keumuman yang badaliy adalah kulliy dari sisi tidak terhalang menggambarkan terjadinya kebersamaan, tetapi tidak menggambarkan untuk setiap satuannya, hanya menggambarkan satuan yang syumuliy. Untuk melihat perbedaan antara kedua lafadz ini dapat diamati dari firman Allah di bawah ini :

1. Firman Allah dalam surat Hud, 11:6 :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Apabila diperhatikan secara seksama dalam ayat ini terdapat lafadz 'amm yang bersifat syumuliy (melingkupi), yaitu kata dabbah. Lafadz ini umum karena bentuknya nakirah yang mencakup semua jenis binatang melata. Isyarat keumuman dalam ayat itu (menafikan sesuatu). Apabila lafadz 'amm pada ayat ini ditakhsis, bukan berarti menghapuskan makna-makna lain yang dikandung dari keumuman lafadznya. Makna-makna ini tetap dipandang ada, karena keumuman lafadz 'amm bersifat syumuli.
2. Firman Allah dalam surat al-Baqarah, 2:67:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".

Dari ayat ini diketahui bahwa kata baqarah yang terdapat di dalamnya merupakan lafadz muthlaq yang bersifat umum lagi bersifat badaliy. Keumuman lafadz muthlaq ini meliputi bermacam afrad. Apabila lafadz muthlaq telah ditaqyid, maka afrad-afrad lainnya, sebagai cakupan dari lafadz muthlaq tersebut, tidak berlaku lagi.

2. Pengertian Lafadz Al Muqayyad
Secara bahasa, kata muqayyad berarti terikat. Sementara secara istilah, Syekh Al Utsaimin mendifinisikan bahwa "muqayyad adalah lafadz yang menunjukkan arti yang sebenarnya dengan (adanya) qayd (pembatasan) oleh suatu hal yang lain". Sementara Firdaus mengutip pendapat Abdul Karim Zaidan bahwa "muqayyad adalah lafadz yang menunjukkan suatu satuan dalam jenisnya yang dikaitkan dengan sifat tertentu". Misalnya, ungkapan rajulun Iraki (Seorang laki-laki asal Irak), dan raqabah mu'minah (hamba sahaya yang beriman).
Menurut Abu Zahrah sebagaimana dikutip oleh Firdaus dalam Ushul Fiqh bahwa: "pembatasan ini terdiri dari sifat, hal (keadaan), ghayah, syarat, atau dengan bentuk pembatasan yang lainnya." Penggunaan sifat sebagai pembatasan dapat diamati dari firman Allah surat al-Nisa', 4:92 :
وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.

Kata raqabah dalam ayat ini memakai qayyid dalam bentuk sifat, yaitu mu'minah (beriman). Jadi, ayat ini memerintahkan kepada orang yag membunuh seorang mukmin secara tidak sengaja untuk memerdekakan hamba sahaya yang beriman dan tidak sah memerdekakan hamba sahaya yang tidak beriman. Contoh qayyid dalam bentuk syarat dapat diamati dalam kasus kaffarat sumpah, seperti pada firman Allah surat al-Maidah, 5:89 :
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Ayat ini menjadi landasan tentang bolehnya puasa tiga hari untuk membayar kaffarat sumpah dengan ada qayyid dalam bentuk syarat. Sebab, hal ini baru boleh dilakukan ketika tidak mampu memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.
Adapun contoh muqayyad dalam bentuk ghayah dapat diamati pada firman Allah surat al-Baqarah, 2:187 :
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.
Dalam ayat ini terdapat perintah menyempurnakan puasa yang dihubungkan dengan batas waktu (ghayah), yaitu al-lail (malam). Atas dasar ini, terlarang melakukan puasa washal (puasa sepanjang hari).

B. Hukum Al Muthlaq dan Al-Muqayyad

1. Hukum Al Muthlaq

Lafadz muthlaq yang terdapat dalam nash harus diamalkan sesuai dengan kemuthlaqannya kecuali bila ada dalil yang menunjukkan sebagai muqayyad, karena mengamalkan nash-nash Al Qur'an dan As Sunnah hukumnya wajib seperti apa yang dituntut oleh nash-nash tersebut sampai ada dalil yang berbeda dengan dengan hal tersebut. Dalam kondisi seperti ini, muthlaq adalah qath'i al-dalalah. Misalnya surat al-Mujadilah, 58:3:
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur……
Lafadz raqabah (budak) dalam ayat ini disebut secara muthlaq tanpa membedakan antara budak beriman atau kafir.
Adapun ayat yang mentaqyid ayat tersebut adalah pada surat Al-Nisa', 4:92, Allah menggunakan lafadz raqabah juga,

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.

Karena itu yang dimaksud budak ketika mendzihar isteri adalah budak yang beriman.
Apabila ada dalil sebagai taqyid (pembatas) dari dalil yang muthlaq, diamalkan sesuai dengan taqyid-nya, seperti firman Allah surat al-Nisa', 4:11:
مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ

(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau dan sesudah dibayar hutangnya.

Kata washiyah yang terdapat pada ayat ini adalah muthlaq, tanpa ada taqyid dari ayat lain tentang jumlah wasiat itu, apakah seperempat, setengah atau sepertiga. Taqyid dari kemuthlaqan lafadz washiyah pada ayat ini ditemukan dalam hadits Nabi saw. Hadits seandainya seseorang mengurangi wasiat dari sepertiga menjadi seperempat? Nabi saw menjawab:
الثلث و الثلث كثير
Rasulullah saw. Bersabda : Sepertiga, dan sepertiga itu banyak (HR. Muttafaq Alaih).
2. Hukum Al Muqayyad

Dalam pandangan ahli ushul fiqh, mereka menetapkan hukum wajib mengamalkan muqayyad. Misalnya, firman Allah pada surat al-Mujadilah, 58:4:
فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا

Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.

Berdasarkan ayat ini kewajiban melakukan puasa selama dua bulan pada ayat tentang kaffarat zhihar diatas ditaqyidkan dengan cara berturut-turut dan harus dilakukan sebelum suami isteri bercampur. Sehubungan dengan itu, tidak boleh puasa dua bulan tersebut dilakukan dengan tidak berturut-turut dan tidak boleh dilakukan sesudah bercampur.
Ahli ushul fiqh menetapkan bahwa lafadz muqayyad tidak tetap sebagai muqayyad apabila ada dalil lain yang menghapuskan batasannya. Misalnya, pada firman Allah surat al-Nisa', 4:23 yang menjelaskan tentang wanita-wanita yang haram dikawini, seperti di bawah ini:
وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ

Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri.

Pada ayat ini terdapat lafadz rabaaibukum (anak tirimu) yang merupakan lafadz muthlaq yang diberi batasan dengan dua hal, yaitu : allati fi hujuurikum (yang berada dalam pemeliharaanmu) dan 'allati dakhaltum bihinaa (yang ibunya telah dicampuri). Batasan lain, yaitu ibunya yang telah dicampuri, tetap diamalkan, selama ibunya belum dicampuri. Apabila sudah dicampuri, hukumnya haram.
Adanya batasan dalam ayat tersebut dengan "yang berada dalam pemeliharaanmu", bukanlah batasan yang dapat dipegang untuk mengharamkan kawin dengan anak tiri. Batasan itu hanya sekedar menunjukkan kebiasaan bahwa anak tiri ikut ibu kandungnya sendiri dan dipelihara ayah tirinya, sebagaimana juga anak tirinya ikut dan dipelihara ayah kandungnya sendiri. Dengan demikian, ayah tiri yang telah mencampuri ibunya, haram kawin dengan anak tirinya baik yang dipelihara oleh ayah tirinya ataupun tidak.

C. Membawa Al Muthlaq kepada Al Muqayyad
Apabila ada lafadz dalam suatu nash disebut secara muthlaq dan ada pula nash lain dalam bentuk muqayyad, maka untuk menyelesaikannya dapat dilihat dari empat bentuk, yaitu :
1. Hukum dan sebab yang terkandung dalam muthlaq dan muqayyad adalah sama. Tegasnya, ada kesamaan hukum dan sebab yang menimbulkan hukum pada dua nash berbeda. Dalam kaitan ini, ulama ushul fiqh sepakat menetapkan bahwa nash muthlaq harus dibawa kepada nash muqayyad sehingga pemahaman terhadap nash itu sesuai dengan ungkapan muqayyad. Umpamanya, firman Allah surat al-Maidah, 5:3:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi

Lafadz al-damm (darah) pada ayat ini merupakan lafadz muthlaq karena tanpa membedakan antara darah mengalir dengan yang tidak mengalir. Dalam kesempatan lain, Allah berfirman pada surat al-An'am, 6:145:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi

Kata al-damm dalam ayat ini dikatikan dengan sifat masfuuha (mengalir). Kedua ayat ini mengandung hukum yang sama, yaitu haram. Begitu pula dengan sebab yang terdapat pada kedua ayat tersrebut sama, yatu haramnya darah karena mendatangkan mudharat. Mengingat sama hukum dan sebabnya, maka untuk ayat muthlaq yang terdapat pada surat al-Maidah, 5:3 diberlakukan ketentuan muqayyad dalam surat al-An'am, 6:145. Atas dasar ini, darah yang diharamkan adalah darah yang mengalir, bukan darah yang masih tersisa dalam daging dan hati.
2. Hukum dan sebab yang terkandung dalam muthlaq dan muqayyad berbeda. Dalam hal ini, ada dua nash yang masing-masing terdiri dari nash muthlaq dan nash muqayyad. Antara kedua nash ini berbeda hukum dan sebabnya. Ulama ushul fiqih sepakat menetapkan bahwa masing-masing nash dipahami secara tersendiri. Misalnya, firman Allah pada surat al-Maidah, 5:38:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.

Dalam surat al-Maidah, 5:6, Allah berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,

Kata aidiya (tangan) yang terdapat pada surat al-Maidah, 5:38 merupakan muthlaq. Sementara kata aidya pada ayat ke dua adalah muqayyad yang dikaitkan dengan kata ila al-marafi' (sampai ke siku). Hukum yang terdapat pada kedua ayat ini pun berbeda. Ayat pertama terkait dengan hukum potong tangan, sedangkan ayat kedua terkait dengan keharusan membasuh tangan. Sebab berlakunya hukum pada kedua ayat tersebut juga berbeda. Pada ayat pertama karena pencurian, sedangkan sebab pada ayat kedua adalah berwudhu' untuk pelaksanaan shalat.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak boleh memberlakukan nash muqayyad (sampai siku) terhadap nash muthlaq. Tegasnya, tidak boleh memotong tangan sampai siku terhadap pelaku pidana pencurian berdasarkan taqyid ayat yang kedua di atas, karena hukum dan sebab pada kedua ayat berbeda.
3. Antara nash muthlaq dan muqayyad mempunyai hukum yang berbeda, sedangkan sebabnya sama. Misalnya firman Allah yang terdapat pada surat al-Maidah 5:6:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,

Ayat ini menjelaskan tentang membasuh tangan sampai siku dalam bentuk muqayyad. Pada lanjutan ayat ini Allah berfirman :
وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.

Ayat ini memerintahkan menyapu tangan ketika melakukan tayammum. Kata tangan di sini merupakan bentuk muthlaq. Hukum yang terdapat pada kedua ayat ini berbeda, yaitu muthlaq untuk kewajiban menyapu tangan dalam tayammum, sedangkan pada muqayyad adalah kewajiban membasuh tangan dalam berwudhu'. Sebab dalam kedua ayat adalah sama, yaitu keharusan bersuci untuk mendirikan shalat.
Para ulama ushul fiqh berbeda pendapat dalam membawakan lafadz muthlaq kepada muqayyad. Jumhur ulama berpendapat bahwa lafadz muthlaq harus dibatasi dengan muqayyad. Dalam contoh di atas, ketika tayammum yang disapu tangan sampai siku. Sementara Abu Hanifah berpendapat lafadz muthlaq dan muqayyad, masing-masing diterapkan secara independen. Atas dasar ini, cukuplah menyapu tangan dalam tayammum sampai kedua pergelangan tangan.
4. Ada dua nash muthlaq dan muqayyad yang hukumnya sama, tetapi sebabnya berbeda. Misalnya, firman Allah dalam surat al-Mujadilah, 58:3:
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.

Dalam ayat kaffarat zhihar di atas, lafadz raqabah dikemukakan dalam bentuk muthlaq. Sementara pada surat al-nisa', 4:92, Allah menggunakan lafadz raqabah juga :

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Dan barangsiapa membunuh seorang mu'min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.

Dalam ayat ini, lafadz raqabah dikaitkan dengan sifat mu'minah. Sementara sebab yang menimbulkan hukum pada kedua ayat di atas berbeda, pada lafadz muthlaq yang pertama berkaitan dengan kasus kaffarat zhihar, sedangkan pada muqayyad ayad kedua dalam kasus pembunuhan yang tidak sengaja. Hukum dalam kedua ayat ini sama yaitu kewajiban memerdekakan budak.
Para ulama ushul fiqh berbeda pendapat dalam menanggungkan muthlaq atas muqayyad bentuk ini,. Jumhur ulama berpendirian bahwa muthlaq ditanggungkan (dipahami menurut arti) kepada muqayyad. Jadi, budak yang dimerdekakan dalam kaffarat zhihar adalah budak beriman. Kalangan Hanafiyyah berpendapat lafadz muthlaq tidak dapat dipahami menurut muqayyad. Lafadz muthlaq mesti diamalkan menurut kemuthlaqannya, yaitu untuk sanksi zhihar yang dimerdekakan adalah budak, baik mukmin atau tidak. Sedangkan lafadz muqayyad diamalkan sesuai dengan qayyid-nya, yaitu untuk kaffarat pembunuhan yang tidak sengaja, sanksinya memerdekakan budak yang mukmin.

Syarat-syarat Membawa Al Muthlaq kepada Al Muqayyad
1. Bahwa yang taqyid merupakan sifat dari suatu zat. Syarat ini ditetapkan Syekh abu Hamid al-Asfaraniy (344-405 H, ahli ushul mazhab Syafi'), al-Mawardi (364 H-450 H, ahli fiqih dan ushul fiqiih mazhab Syafi'i), al-Rubaniy, al-Abhari (ulama mazhab Malikiyyah), ibn Khairan al-Syafi'i.
2. Muthlaq tersebut hanya satu, seperti syarat adil bagi para saksi. Syarat ini dikemukakan Abu Mansur al-harisi, Abu Ishaq al-Syairazi (393-476 H, ahli ushul mazhab Syafi'i), al-Mawardi dan al-Qadhi Abd al-Wahhab (ahli ushul mazhab Malki).
3. Muthlaq itu dalam konteks amar, bukan nafi dan nahi. Syarat ini dirumuskan oleh al-Amidi (Amid-Turki, 551 H-Damaskus, 631 H; ahli ushul mazhab Syafi'i), dan ibn al-Hajib (570-646 H, ahli ushul mazhab Maliki). Menurut al-Razi dan al-Asfahani membawa muthlaq kepada muqayyad tidaklah mesti sebatas amr saja, tetapi juga meliputi nahi dan bentuk-bentuk lainnya.
4. Muthlaq tersebut tidak dalam persoalan-persoalan mubah.
5. Antara muthlaq dan muqayyad tidak dapat dipertemukan kecuali dengan membawa muthlaq kepada muqayyad.
6. Sesudah penyebutan lafadz muthlaq tersebut tidak diiringi dengan penyebutan lafadz muqayyad.
7. Tidak ada dalil yang menghalangi pen-taqyid-an muthlaq tersebut.

III. KESIMPULAN

Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Lafadz Al Muthlaq ialah lafadz yang menunjukkan arti yang sebenarnya tanpa qayd (dibatasi) oleh suatu hal yang lain.
2. Sedangkan yang dimaksud dengan lafadz al-muqayyad adalah lafadz yang menunjukkan arti yang sebenarnya dengan (adanya) qayd (pembatasan) oleh suatu hal yang lain.
3. Adapun perbedaan antara muthlaq dengan muqayyad, bahwa muthlaq menunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ada suatu keterangan yang mengikatnya dan tanpa memperhatikan satuan serta jumlah. Misalnya, lafadz raqabah yang terdapat dalam surat al-Mujadilah, 58:3 adalah bentuk muthlaq karena itu tidak diikuti sifat apapun. Jadi, apapun, baik mukmin atau bukan mukmin. Sementara muqayyad menunjuk kepada hakikat sesuatu, tetapi mempertimbangkan beberapa hal, yaitu jumlah (kuantitas), sifat atau keadaan, seperti pada contoh di atas.
4. Mengamalkan nash-nash yang lafadznya muthlaq dan muqayyad hukumnya wajib
5. Muthlaq dapat saja dibawa kepada muqayyad dengan beberapa syarat

Wallahu Ta'ala A'lam


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al- Karim dan Terjemahannya Ke Dalam Bahasa Indonesia (Di bawah Pengawasan Perwakilan Bagian Percetakan dan Penerbitan Pada Kementrian Agama, Wakaf, Da'wah, Dan Bimbingan Islam Riyadh Kerajaan Saudi Arabia)

Al Utsaimin, Muhammad Bin Shalih, AlUshul Min Ilmi al-Ushul,Cet. III ; Beyrut: Muassasah Ar Risalah dan Riyadh: Maktabah Ar Rasyad, 1406H-1986M

Umam, Khaerul dan Amiruddin, Achyar, Ushul Fiqih II ,Cet.II; Bandung: Pustaka Setia, Juni 2001

Firdaus, Ushul Fiqh ,Cet.I; Jakarta: Zikrul Hakim, Dzulqaidah 1425-Desember 2004

Khallaf, Abdul Wahhab, Kaidah-KaidahHukum Islam, Cet. VII; Jakarta: Rajawali Press, Juli 2000.

Najmuddin Abir Rabi' Sulaiman ibn Abdil Qawy ibn Abdil Karim ibn Sa'id Ath Thawwuffii, Syarh Mukhrshar al-Rawdhah Juz II, Cet. Thn 1419H-1998M.

KIAT-KIAT MUROBBI SUKSES (عَوَامِلُ اَلْمُرَبِّيِ النَّاجِحِ)

I. Pengertian dan Parameter Sukses

I.1. Pengertian Sukses
• Sukses Yang hakiki adalah “Masuk surga dan terbebas dari api neraka” (sisi ke-akhiratan).
• Berhasil membentuk kader “pribadi muslim yang ideal”(الشخصية المسلمة الميثالية)
(Sisi ke-duniaan)
I.2. Parameter Sukses :
 Menghimpun sifat 5M :
• Mu’min :
o Paham Islam dengan manhaj yang shahih
o Beriman dan bertauhid (terbebas dari syirik)
o Komitmen pada syariat Islam
o Tekun beribadah sesuai sunnah (memiliki ruhiyah yang hidup)
o Memiliki akhlak yang terpuji
o Mengamalkan adab-adab Islamy
• Mushlih:
o Menjadi dai/murobbi
o Mampu menjadi agen perubah (min anashir at taghyir) di wilayahnya (tempat tinggal dan pekerjaannya)
o Mampu menyelesaikan problema-problema masyarakatnya.
• Mujahid:
o Memiliki kesadaran untuk berjuang
o Bersungguh-sungguh (maksimal)
o Sabar menghadapi kendala-kendala/tantangan perjuangan
o Rela berkorban
• Muta’awin :
o Iltizam (komitmen) dengan jama’ah (terikat dan terlibat)
o Memiliki kesadaran berjuang dengan berjamaah (bertandzim)
o Siap memimpin dan dipimpin
o Mudah ta’awun dengan sesama pejuang dan tidak mudah konflik
• Mutqin (Profesional)
o Berjuang dengan memberikan dan menyalurkan potensi dan keahlian (كفاءة)yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya.
o Tekun, teliti, cermat, amanah dan tuntas dalam bekerja
o Mengetahui betul pos perjuangannya

 Mampu membimbing dan mengarahkan kader binannya (mutarabbi) membangun “Keluarga Islamy” dan “Keluarga Pejuang”
 Mampu mengembangkan kader baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
 Telah memberikan kontribusi untuk tegaknya Dinullah.

II. Kiat-kiat Sukses

1. Ikhlas lillahi taala:
- Tarbiyah merupakan amal yang memiliki peluang ikhlas yang tinggi (datang sendiri, tidak ada imbalan jaza, maksimal)
- Semata-mata bekerja untuk tegaknya syariat Allah secara syamil di bumi ini.

2. Keteladanan
- Pepatah “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”
- Memiliki ta’tsir (pengaruh) yang sangat dahsyat
- Keteladanan komitmen
- Keteladanan merupakan rahasia keberhasilan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mentarbiyah para Shahabat Radiyallu ‘Anhum ‘Ajma’in.
3. Mujahadah dan Kedisiplinan
4. Konsisten dalam menerapkan baramij tarbawy
- Aqliyah : Kadis, Hadist, Qiraah
- Ruhiyah : Mabit, tadarrus, qiyamulail, puasa sunnat
- Jasadiyah : riyadhah badaniyah
5. Persiapan yang Baik
- Aqliyah : ilmu
- Ruhiyah : hati yang hidup
- Jasadiyah : kesehatan yang baik
6. Methode yang Menarik:
- Tendensi (sesuatu yang menjadi kebutuhan)
- Distingsi (unik) : penggunaan alat peraga
- Konsistensi dan repetisi (tidak berubah-ubah dan mengulang-ulangi)
- Variatif (tdk monoton)
7. Orientasi Taujih dan Nasihat (bukan semata-mata transfer ilmu atau penambahan ilmu) :
- Menyoroti realitas kehidupan dan memberikan arahan
- Senantiasa mengangkat conto-contoh keteladanan dan semangat juang para Salaf
8. Mutaba’ah(Kontrol) dan Iqab(pemberian sanksi):
- Kehadiran
- Daya serap
- Buku Catatan
- Hasalan
- Komitmen Syari’ah (penampilan,sholat berjama’ah, ikhtilath, dll)
- Qira-atul Qur’an
- Amal Da’wy
- Problem mutarabbi
9. Memiliki sifat-sifat “kedekatan” (personal approach) dengan mutarabbi(mengetahui keadaan mereka)
10. Mendoakan mutarabbinya.

Wallahu Ta’ala ‘Alam bish Shawab


Buku-buku yang dianjurkan untuk dibaca :
1. “Bekal Seorang Da’I” Oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin.
2. “Panduan Kebangkitan Islam ” Oleh Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin
3. “Min Akhlaqid Da’iyah” Oleh Syaikh Salman Bin Fahd Al Audah
4. “Fannud Da’iyah” Oleh Syaikh ‘Aidh bin ‘Abdillah Al Qarny
5. “9 Pilar Sukses Da’i” Oleh Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthany.


Disajikan Oleh Muh.Qasim Saguni dalam acara “Pelatihan Manajemen Pengelolaan Tarbiyah bagi Du’at dan Murabbi WI ” Departemen Da’wah dan Kaderisasi PP.wahdah Islamiyah pada tanggal 17-18 Dzulqa’dah 1424H/17-18 Januari 2004 di Makassar.

Minggu, 16 November 2008

KESURUPAN JIN DALAM PANDANGAN ISLAM

Definisi Kesurupan

Kesurupan (Ash shar ‘u) ialah ketimpangan yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyadari apa yang diucapkannya dan tidak dapat pula menghubungkan antara apa yang telah diucapkan dengan apa yang akan diucapkannya. Orang yang terkena kesurupan ini akan mengalami kehilangan ingatan sebagai akibat dari ketimpangan pada saraf otak. Ketimpangan akal ini akan diiringi dengan ketimpangan pada gerakan-gerakan orang kesurupan sehingga berjalan terhuyung-huyung dan tidak dapat mengendalikan jalannya.
Diantara fenomena kesurupan ini adalah kekacauan dalam ucapan, perbuatan dan fikiran.
Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam “Fathul Bary” mengatakan kesurupan bisa jadi karena gangguan jin, dan tidak terjadi kecuali dari mereka yang berjiwa kotor; kemungkinan karena baiknya sebagian jenis manusia atau karena menimpakan gangguan kepadanya semata-mata.
Jadi hakikat kesurupan yang diakibatkan oleh gangguan jin adalah masuknya jin dalam tubuh manusia. Bisa jadi karena jin itu bekerjasama dengan tukang sihir/dukun dan inilah yang disebut Sihir, atau karena menyusup sendiri kedalam tubuh “seseorang” (manusia) karena ia benci atau karena ia cinta pada orang tersebut.

Eksistensi Jin

Karena hakikat kesurupan bisa jadi diakibatkan oleh jin, maka perlu kita uraikan eksistensi (hakikat adanya) jin yang sesungguhnya sehingga tidak lagi terkesan bahwa keberadaan jin adalah sesuatu yang khurafat.

Jin adalah salah satu jenis ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang masuk dalam kategori alam ghoib. Dan keimanan kepada perkara-perkara ghoib (al ghoibiyyat) adalah sesuatu yang wajib bahkan menjadi sifat pertama yang dipakai oleh Allah untuk mensifati orang-orang yang bertaqwa (lihat QS.2 :1-3). Adapun hal-hal yang ghoib lainnya adalah Allah subhanahu Wata’ala sendiri dzat maupun sifatnya, malaikat, hari kebangkitan, syurga dengan berbagai kenikmatannya serta neraka dengan berbagai bentuk siksaannya.
Allah berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ

Artinya: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.(Qs.7 : 27)

Eksistensi (hakikat adanya) jin ditunjukkan dengan banyaknya ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan tentang Jin, bahkan ada satu surat yang dinamai dengan Surat Al Jin (Surat ke 72). Kata “ Jin ” disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 22 kali, sedangkan kata “ al-jaan “ disebutkan 7 kali. Jadi makhluk jin ini disebutkan di dalam Al Qur’an sebanyak 29 kali. Penyebutan kata Jin ini sudah menunjukkan eksistensinya, dan untuk apa Allah menyebutkannya kalau memang tidak ada.
Firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ
Artinya: “dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur'an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan ” (QS.46: 29).

Dalil-dalil lainnya dapat dilihat misalnya dalam surat : 6 : 130, 55 : 33, 72 : 1 dan 6, 5 : 91, 51 : 56 dan ayat-ayat lainnya.

Dalil-dalil As Sunnah juga sangat banyak menyebutkan tentang eksistensi Jin ini, diantaranya : Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari ‘Aisyah Radiyallahu ‘Anha

خلقت الملائكة من نور وخلق الجان من مارج من نار وخلق آدم مما وصف لكم
Artinya : “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin dari api, dan Adam diciptakan dari yang telah dejelaskan kepada kalian “ (Hadits shahih R.Bukhari dan Muslim).

Sifat-sifat Jin

Dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an dan as Sunnah tentang sebagian sifat-sifat jin yaitu:
1. Jin diciptakan dari api, dan diciptakan lebih dah ulu dari manusia (QS. 15 : 26-27)
2. Jin berjenis kelamin, laki-laki dan perempuan serta kawin dan berketurunan (QS. 55 : 56, dan 18 : 50 ) dan bisa kawin dengan manusia
3. Iblis termasuk dari golongan jin bukan dari golongan malaikat (QS. 18 : 50)


4. Terdiri atas 3 jenis : - Jenis jin yang memiliki sayap dan terbang di udara
- Jenis ular dan kalajengking atau anjing berwarna hitam
- Jenis yang menetap dan berpindah-pindah.
(H. Ath Thabrany, Al Hakim, Al baihaqi di dalam Asma wa shifat dengan sanad yang shahih)
5. Memiliki bentuk rupa yang buruk
6. Memiliki 2 tanduk (HR.Bukhari dan Muslim)
7. Jin juga makan dan minum, makanannya adalah tulang dan kotoran manusia serta semua makanan yang tidak dibaca dengan nama Allah (Bismillah).
8. Jin bisa menyerupakan diri sebagai manusia dan binatang tetapi bukan dalam bentuknya yang asli, Imam Syafi’I Rahimahullah mengatakan: “Bohong orang yang mengatakan melihat jin (dalam bentuknya yang hakiki)”.
9. Jin termasuk makhluk mukallaf (dibebankan kewajiban beribadah kepada Allah) lihat QS.51:56), karena itu ada yang ta’at (Muslim) dan ada yang membangkang (Kafir) lihat QS. 72 : 11 dan 14-15.
10. Rasul yang diikuti oleh jin adalah Rasul dari kalangan manusia (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam). Lihat QS. 6 : 130.
11. Mereka menyenangi beberapa tempat, seperti : rumah yang di dalamnya ada anjing, di tempat-tempat kotor, kosong dan gelap, reruntuhan bangunan, di lubang-lubang, batu-batu, tanah yang gundul, kuburan, lautan, tempat yang ada suara musik seperti seruling, lonceng dan alat-alat musik lainnya, tempat-tempat yang ada patung dan gambar-gambar bernyawa, rumah yang di dalamnya lalai disebut nama-nama Allah, lalai beribadah, lalai dalam memelihara syari’at dan lalai membaca Al Qur’an. Mereka juga berada di antara barisan shalat (shaf) yang renggang, mereka juga menyenangi pasar-pasar.
12. Syetan jin dapat mencuri informasi dari langit. Mereka berta’awun dengan dukun/paranormal. Informasi yang berhasi yang dicuri oleh jin tersebut disampaikan kepada dukun/paranormal sehingga dukun/paranormal itu dapat menyampaikan hal-hal yang belum terjadi.
13. Jin juga dapat menculik manusia. (lihat buku Luqtul Marjan fi Ahkamil Jaan).
14. Jin menguasai dan mengalahkan manusia yang banyak berbuat dosa, sebaliknya tidak dapat menguasai dan mengalahkan orang-orang yang kuat imannya.

Dalil-Dalil Tentang Eksistensi Kesurupan Jin

Pertama : Dalil Al Qur’an

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. 2 : 275).

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “di dalam ayat ini terdapat dalil atas kesalahan orang yang mengingkari kesurupan jin dan mengatakan bahwa hal tersebut merupakan pengaruh tabiat, atau syetan tidak dapat masuk pada diri manusia dan tidak dapat mengganggunya menjadi gila.

Sedangkan Al Alusi memberikan komentar: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan riba, mereka tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kesurupan di dunia. Attakhabbuth ialah pukulan bertubu-tubi di berbagai penjuru. Firman Allah minal massi, yakni penyakit gila. Dan dikatakan mussa arrajulu fahua masuus yakni gila, asalnya adalah menyentuh dengan tangan dan dikatakan demikian karena syetan mungkin menyentuh seseorang dan persentuhannya itu menimbulkan kerusakan sehingga menimbulkan gila.

Kedua : Dalil As Sunnah

Dari Mathar bin Abdur Rahman Al A’naq, ia berkata, : Telah menceritakan kepadaku Ummu Abban binti Al Wazi’ bin Zari’ bin Amir Al Abdi dari bapaknya bahwa Kakeknya A Zari’ pergi menemui Rasulullah SAW dengan membawa anaknya atau anak saudara perempuannya yang sedang gila. Kakekku berkata : Ketika kami datang kepada Rasulullah SAW di Madinah, aku berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membawa anak-anakku atau anak perempuanku yang sedang gila, aku bawa dia kepadamu agar engkau mendo’akannya kepada Allah”. Nabi SAW berkata : “Bawalah dia kemari”. Kemudian aku pergi mengambilnya di kendaraan, lalu aku lepaskan ikatannya dan aku copot pakaian safarnya kemudian aku ganti dengan dua pakaian yang baik dan aku gandeng tangannya hingga kubawa kehadapn Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW berkata : “Dekatkanlah kepadaku dan hadapkan punggungnya kepadaku”. Ia (Kakekku) berkata : Kemudian Nabi SAW mengambil mengambil simpul-simpul kainnya dari atas dan bawahnya lalu memukul punggungnya hingga aku lihat putih kedua ketiaknya seraya berkata : “Keluarlah musuh Allah, Keluarlah musuh Allah”. Kemudian anak itu menatap dengan pandangan yang sehat tidak seperti pandangan sebelumnya, lalu Rasulullah SAW menundukkannya dihadapannya seraya berdo’a untuknya kemudian mengusap wajahnya. Setelah do’a Rasulullah SAW ini tidak ada seorang pun diantara rombongan yang lebih baik dari anak itu.
Al Haitsami berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani sedangkan Ummu Abban tidak menyampaikan Riwayat kepada Mathar.(Majmma’uz Zawa’id).


Dari hadits ini dapat disimpulkan beberapa hal :
1. Syetan bisa merasuki manusia hingga menjadi gila
2. Kesurupan dapat menimbulkan penyakit pisik dan kejiwaan.
3. Kesurupan (kerasukan syetan) bisa diobati
4. Syetan bisa merasuki anak-anak hingga menjadi gila. Hal ini nampak jelas dari perkataan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam “Keluarlah musuh Allah” . Perintah keluar disampaikan tentunya setelah proses masuk sebelumnya.

Ketiga : Dalil logika

Jin adalah makhluk halus sedangkan manusia adalah makhluk berjasad. Maka Muhammad Al Hamid dalam buku Rududun ‘alal bathil berkata: Jika jin berjasad halus maka secara akal ataupun agama tidak mustahil bila masuk kedalam tubuh manusia, karena yang halus bisa masuk kedalam tubuh yang tebal, seperti udara bisa masuk kedalam tubuh kita, atau api bisa merasuk didalam bara, atau listrik mengalir dikabel, bahkan seperti air didalam tanah, pasir dan pakaian, padahal dia tidak sehalus udara dan lsitrik.
Sikap ahlul haq ialah menerima nash-nash yang memberitahukan bahwa jin bisa masuk kedalam tubuh manusia, kenyataannya mengenai hal ini pun telah banyak kita saksikan sehingga kita tidak boleh menolaknya. Bahwa wahyu telah memberitahukan hal ini. Kita dituntut menerimanyatanpa Ta’wil dan Na’if yang akan membawa nash-nash tersebut keluar dari jalannya yang benar kepada berbagai kebengkokan yang dapat dibenarkan oleh Islam dan Aqidah yang benar. Sikap mengimani inilah yang akan menyelamatkan dari keabadian di neraka kelak.
Kenyataan-kenyataan tentang masuknya jin kedalam tubuh manusia ini sangat banyak dan bisa disaksikan. Orang yang mengingkarinya, karena saking banyaknya peristiwa ini, akan bertabrakan dengan kenyataan-kenyataan empirik yang sekaligus menyatakan kesalahan pendapatnya tersebut

Keempat : Dalil realitas

Hampir setiap hari kita menemukan orang yang kesurupan, terkadang keluarga kita, kawan kita bahkan diri kita sendiri yang kebanyakannya karena dikirim oleh tukang-tukang sihir dan dukun yang mendapatkan order dari orang-orang yang sakit hati. Salah satu bukti realistis adalah seseorang yang ketika kesurupan dapat berbahasa Arab dengan baik padahal ketika ia sadar tidak dapat melakukannya. Ini diakibatkan karena jin yang menyusup pada orang itu pandai berbahasa Arab atau ia adalah jin berbangsa Arab.

Metode Pengobatan Kesurupan

Islam membagi metode pengobatan terhadap orang yang kesurupan dalam dua bagian besar, yaitu :

A. Metode yang bertentangan dengan syari’at
Adapun metode yang bertentangan dengan syari’at umumnya menggunakan jin, yaitu beristi’anah (meminta pertolongan) kepada jin, bentuknya adalah dengan menggunakan bacaan/mantra-mantra yang mengandung unsur syirik. Dengan bacaan-bacaan/mantra-mantra itulah ia mengundang jin untuk memberikan pertolongan kepada orang yang kesurupan. Biasanya bacaan-bacaan ini menggunakan sebagian ayat-ayat Al Qur’an dengan maksud mengelabui dan selebihnya menggunakan bahasa yang tidak jelas dan tidak dipahami maknanya.

Allah berfirman :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Artinya : Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.(QS.72: 6).

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullahu dalam Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid mengatakan : “Sisi penggunaan ayat sebagai dalil ialah celaan terhadap orang yang memohon perlindungan kepada selain Allah (jin). Seseorang yang memohon perlindungan kepada sesuatu, tidak diragukan lagi bahwa dia telah mengaitkan harapan kepadanya dan bersandar kepadanya. Ini termasuk jenis syirik.

Rasulullah Shallallahu “Alaihi Wasallam bersabda :
إِِِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
Artinya : Sesungguhnya ruqyah, jimat dan pelet itu adalah syirik (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud Raiyallahu ‘Anhu).

Metode yang haram ini banyak digunakan oleh tukang sihir, dukun, paranormal dan lain-lain yang sejenis. Syekh Wahid Abdul salam Bali menjelaskan “ Cara kerja mereka pada dasarnya adalah meminta kepada selain Allah. Syetan-syetan tidak akan mau melayani tukang sihir hingga dia kafir dengan suatu ucapan atau perbuatan. Semakin mereka itu itu bermaksiyat kepada Allah maka syetan-syetan itu semakin dekat kepadanya. Waktu kecil, kami sering mendengar ada seorang ahli sihir terkenal tidak bisa mensihir dan syetan-syetan tidak mau datang kepadanya hingga ia menjadikan Al qur’an sebagau alas kaki yang dipakainya untuk ke WC. Oleh sebab itu, syetan-syetan mau melayaninya dan membawakan sesuatu ke rumahnya.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

من أتى كاهنا فصدقه فقدكفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم
Artinya: Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkannya, maka sungguh ia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat yang lain disebutkan yang :

Artinya: Barangsiapa mendatangi seorang dukun peramal, lalu bertanya kepadanya sesuatu dan membenarkannya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari (HR. Imam Muslim).

B. Metode yang sejalan dengan syari’at
Metode ini disebut juga “Ruqyah Syar’iyyah” yaitu pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah, do’a-do’a yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau do’a-do’a yang berbahasa Arab yang jelas dan dipahami maknanya, dengan mengharapkan kesembuhan dari Allah semata, serta meyakini bahwa bacaan itu tidak memberi pengaruh pada dzatnya kecuali dengan taqdir Allah ‘Azza Wa jalla.

Rasulullah Shallallahu “Alaihi Wasallam berkata kepada ‘Auf bin Malik Radiyallahu ‘Anhu ketika beliau bertanya tentang ruqyah yang dilakukannya :

اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لاَ بَأْسَ باِلرُّقَى ماَلمَ ْتَكُنْ شِرْكًا
Artinya: “Perlihatkan kepadaku (metode) ruqyahmu,tidak mengapa ruqyah selama tidak (mengandung unsur) syirik” (Hadits Shahih Riwyat Muslim).
Selanjutnya lihat buku “Kesurupan Jin dan Terapinya menurut Al Qur’an dan As Sunnah”.

Wallahu Ta’ala A’laa wa A’lam

*Disajikan dalam Seminar Islami “Pengobatan Kedokteran Spritual: Kesurupan Jin dalam Tinjauan Syar’I dan Terapinya secara Islami diselenggarakan Oleh Wahdah Islamiyah Cabang Ternate kerjasama dengan Pengurus Masjid Babussalam UNKHAIR Ternate, Sabtu 9 jum.Tsaniyah 1426H- 16 Juli 2005M, Oleh : Muhammad Qasim Saguni

Maraji :
1. Wiqayatul Insan Minal Jinni Wasysyaithan, oleh Wahid abdul Salam Bali
2. Ash Shadimul Battar fit Tashaddii lissaharatil Asyrar, oleh Wahid Abdul salam Bali.
3. Al Qaulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
4. Al Madkhalu lidirasatil ‘Aqidatil Islamiyyah ‘ala Madzhabi Ahlissunnah Wal jama’ah. Oleh DR. Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan.
5. Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid, oleh Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh

TEKNIK MENYUSUN KERANGKA DA’WAH

Tersedianya kerangka da’wah dalam bentuk tulisan sederhana adalah merupakan bagian dari persiapan da’wah secara ilmy (Al I’dadul ‘Ilmy), tanpa persiapan yang cukup akan menimbulkan beberapa dampak yang berlawanan dengan manfaat adanya persiapan kerangka da’wah seperti yang disebutkan berikut ini.

A. MANFAATNYA
Dengan memiliki tulisan ringkas dan sederhana berkaitan kerangka ceramah yang akan kita sampaikan, maka akan melahirkan beberapa manfaat :
1. Menanamkan rasa percaya diri.
2. Ceramah tidak melantur atau berjalan tanpa arah.
3. Mudah membatasi waktu, karena ceramah yang terlalu panjang terutama khutbah Jum’at (di atas 25 menit) akan menimbulkan kebosanan dan kegelisahan jama’ah.
4. Ceramah berjalan teratur dan sistimatis.
5. Audiens mudah memahami.
6. Menjadi arsip/bahan untuk ceramah-ceramah berikutnya terutama ketika kita ditugasi/diminta berceramah secara tiba-tiba.

B. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN
Dalam mempersiapkan kerangka ceramah, ada beberapa langkah praktis dan sistimatis yang sebaiknya kita lakukan, sebagai berikut :
1. Mengetahui latar belakang (khalfiyah) objek da’wah yang akan kita hadapi. Secara umum mereka terbagi dalam tiga kelompok :
 Golongan terpelajar (intelektual)  mahasiswa, dosen dan seterusnya.
 Golongan menengah  pegawai, karyawan dan seterusnya.
 Golongan awam  selain dari kedua golongan di atas.
Tujuan mengetahui khalfiyah mereka adalah untuk :
 Menentukan topik ceramah yang akan kita berikan.
 Penggunaan bahasa yang kita gunakan.
 Metode ceramah yang kita terapkan.
2. Mengetahui problema masyarakat yang sedang aktual. Untuk itu kita harus rajin mencari informasi-informasi yang aktual lewat berbagai media cetak dan elektronik. Hal ini sangat berguna dalam menentukan topik ceramah sehingga kita dapat mewujudkan metode da’wah Qur’ani yaitu bil Hikmah.
Misalnya : - Kasus KSU MB, PT.QSAR  Dampak Praktek Bisnis Ribawy
- Kasus maraknya perkelahian antar mahasiswa  Dampak Sistim Pendidikan Sekuler
- Kasus BLA  Urgensi Pendidikan Anak
- Hari-hari Libur : Maulid, Isra’ Mi’raj, Kemerdekaan, dan lain-lain  Pengertian dan bahaya bid’ah, hakikat kemerdekaan dalam pandangan islam.
3. Mengumpulkan Maraji’ (referensi) seperti buku/kutayib, buletin, koran dan majalah guna mencatat data, kaset dan lain-lain.
4. Menetapkan topik/tema/judul ceramah. Hendaknya judul dibuat yang singkat, menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu dari audiens.
5. Pembuatan kerangka.
Pada tahap ini perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain :
 Kerangka tersebut ditulis dalam buku kecil (agenda mini) yang mudah dibawa kemana-mana, hindari ditulis di atas potongan-potongan kertas. Hal ini berfungsi untuk mengoleksi bahan-bahan ceramah kita yang masih relevan disajikan pada obyek yang berbeda. Satu hal yang perlu diingat agar setiap ceramah yang telah disampaikan jangan lupa dicatat tempatnya untuk menghindari perulangan.
 Memulai dengan do’a/isti’anah kepada Allah.
 Memaksimalkan berpikir dengan mencari tempat yang memudahkan berkonsentrasi. Karena inspirasi terkadang datang sewaktu-waktu. Maka agar tidak terlupa dan hilang begitu saja, segera dicatat.
 Membuat sistimatika ceramah sesuai kebutuhan (lihat lampiran contoh-contoh).
 Mencatat dalil-dalil berupa Al Qur’an dan Hadits serta perkataan para ulama/pakar, sebaiknya dalam bentuk teks asli berbahasa Arab/Inggris. Jika dalil-dalil tersebut dihafal, maka yang dicatat awalnya saja, tempatnya, takhrijnya dan sumbernya. Namun jika tidak dihafal maka ditulis lengkap sebelum disajikan telah lancar membacanya.

Wallahu Ta’ala A’lam

* Disajikan dalam acara Pelatihan Da’I dan Khatib Wahdah Islamiyah Cabang Makassar, Sabtu, 2 Sya’ban1427H/ 26 Agustus 2006 M, Oleh Muhammad Qasim Saguni

HAKIKAT MANUSIA DAN KEHIDUPAN

I. Pengertian Hakikat
Hakikat disini bukanlah sebagaimana dalam pandangan ahlul tarekat yang membagi manusia menjadi 3 tingkatan : ma’rifat, syari’at dan hakikat. Yang mana jika manusia masih mengerjakan shalat maka dikatakan baru pada tingkat ma’rifat. Dan menurut mereka, tingkatan yang tertinggi adalah hakikat.
Sebagaimana pemahaman kita, jika ada seseorang yang tata cara shalat dan wiridnya tidak ada sumber/dalilnya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, maka itu adalah bid’ah. Namun mereka (ahlul tarekat) menjawab bahwa memang benar jika hal itu dilihat/ditinjau dari sisi ma’rifat dan syari’at, tetapi jika ditinjau dari sisi hakikat, maka itu bukanlah bid’ah. Ini adalah hal yang sangat aneh dalam agama kita. Bahwa kata mereka sesungguhnya orang yang sudah sampai kepada tingkat hakikat itu sekalipun syari’atnya bertentangan dengan islam tidaklah masalah, karena ia sudah melalui tahapan itu.
Padahal kalau dikaitkan dengan pemahaman tentang hakikat, maka manusia yang paling memahaminya adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tapi beliau tidak meninggalkan syari’at. Bahkan beliau setiap malam melaksanakan Qiyamullail sampai kaki beliau bengkak. Dan ketika beliau ditanya kenapa “menyiksakan” dirinya untuk melakukan hal tersebut padahal Allah telah memberikan jaminan diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Maka jawab beliau :

“Tidakkah pantas kalau aku ini menjadi hamba yang bersyukur?”
Karenanya Islam mengajarkan, bahwa yang dimaksud dengan hakikat disini adalah memahami arti sebenarnya/esensi dari segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat.
Sebagai contoh :
1. Dalam QS. 2 : 154

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur dijalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Yang dimaksud dengan hidup disini adalah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, dimana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan disisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
2. Hakikat kekayaan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ
الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda : “Tidak disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa. “ (HR. Bukhari-Muslim)
3. Hakikat orang yang kuat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا
الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR. Bukhari-Muslim)
4. Hakikat kecantikan bukanlah sebagaimana kecantikan para selebritis, atau hakikat kepintaran bukanlah sebagaimana terlihat pada fisiknya (botaknya seorang professor).
Dengan demikian, tujuan dari kita mengetahui hakikat adalah agar kita memahami segala sesuatu supaya kita tidak tertipu. Namun seorang muslim memang tidak harus tahu hakikat dari segala sesuatu. Sebab sumber dari hakikat adalah Allah dan Rasul-Nya.

II. Hakikat Manusia
Siapakah manusia sesungguhnya menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya ?
a. Status Manusia
Manusia disisi Allah adalah sebagai salah satu ciptaan (makhluk) Allah. Sebagaimana dalam QS. 96 : 2

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. 2 : 21

Makna yang paling mendasar yang dapat diambil dari hal ini (manusia sbg makhluk) adalah bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sedangkan Allah Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan, keterbatasan atau kelemahan. Yang menunjukkan hal tersebut adalah ucapan “Subhanallah”, “Maha Suci Allah dari serba kekurangan dan keterbatasan”. Oleh karena itu tidaklah pantas manusia sebagai ciptaan untuk menyombongkan dirinya. Allahlah yang pantas untuk sombong, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna.
b. Unsur Penyusun Manusia/Potensi Penyusun Manusia
Manusia sebagai ciptaan disusun atas 3 unsur :
i. Jasad/Fisik
Bahan baku manusia ketika manusia pertama (Nabi Adam a.s) diciptakan adalah berasal dari tanah. Adapun hakikat tanah itu penuh kehinaan. Selanjutnya manusia keturunan Adam berasal dari air mani (air yang hina).
QS. 15 : 28-30
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.”

QS. 32 : 7-8
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).”
Mengapa manusia diciptakan dari tanah ? Padahal jika Allah mau, bisa saja manusia diciptakan dari emas. Namun hikmahnya adalah agar manusia tidak menyombongkan diri dengan menyebut asal kejadiannya/penciptaannya, sebagaimana iblis yang senantiasa mengungkapkan asal-usulnya dan membanggakan keturunannya. Sehingga jika ada manusia yang senantiasa membanggakan asal-usulnya maka ia memiliki sifat iblis.
QS. 15 : 31-33
“Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman : “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu ? Berkata iblis : “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
Sebenarnya manusia tidaklah dilihat dari asal-usulnya, tapi dilihat dari amalannya/ketakwaannya. Karena sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukannya karena asal-usul atau kecantikan/ketampanan. Jadi asal-usul atau kecantikan bukanlah indikasi kemuliaan seseorang dan bukan pula hal yang perlu kemudian dieksploitir.
ii. Ruh
Ruh adalah merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah.
QS. 32 : 9
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
QS. 17 : 85
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ruh kita membutuhkan dzikrullah agar hati kita menjadi tentram.
QS. 13 : 28
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”
Dan perumpamaan antara yang berdzikir dan yang tidak berdzikir adalah antara yang hidup dan yang mati.
iii. Akal
Akal diberikan oleh Allah agar digunakan untuk menuntut ilmu. Dengan akal, manusia memiliki ilmu yang digunakan untuk membedakan yang haq dan yang bathil. Jadi jika seseorang senantiasa menuntut ilmu tapi tidak bisa mengantarkannya untuk mengenal mana yang haq dan yang bathil, maka ilmu tersebut tidak berguna baginya.
QS. 2 : 31-32
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! Mereka menjawab : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
QS. 16 : 78
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
c. Tugas dan Fungsi Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah dengan tugas beribadah kepada Allah, menjadi hamba Allah, mengabdi kepada Allah, bukan untuk bermain-main dan membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Manusia dituntut untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh ketundukan dan ketaatan.
QS. 51 : 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
QS. 2 : 21
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
Dan manusia diturunkan ke bumi untuk menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
QS. 2 : 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan-kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
QS. 24 : 55
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,…”
Ayat ini menjelaskan bahwa dengan beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah; berkuasa di muka bumi. Dan menjadi khalifah bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, bahkan tugas ini sangat berat. Begitu beratnya sehingga apabila tugas tersebut diberikan kepada sebuah gunung, niscaya akan kita lihat gunung itu tuntuk terpecah-pecah disebabkan takutnya kepada Allah. (QS. 59 : 21).
Dalam QS. 33 : 72
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh.”
Oleh karena itu manusia yang telah mengambil amanat ini dan menerima Al-Quran hendaknya mempelajari, memperhatikan dan melaksanakan semua ajaran tuntunannya dengan baik dan khusyuk dan senantiasa takut kepada Allah.
Sebagai khalifah/wakil Allah di muka bumi, manusia dituntut untuk menjalankannya berdasarka undang-undang Allah, memakmurkan bumi dan mengembangkan potensi yang ada di dalamnya untuk kesejahteraan umat manusia serta menyebarkan keadilan dan kemaslahatan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia yang hakiki dalam pandangan islam adalah manusia yang menyadari dirinya/statusnya sebagai ciptaan Allah dan menyadari serta mengaplikasikan tugasnya dihadapan Allah dalam bentuk ibadah. Manusia yang tidak menyadari status dan tugasnya inilah manusia palsu, yang diberikan berbagai predikat buruk oleh Allah. Betapa tidak, kita telah diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya sebagaiman di QS. 95 : 4


“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Berkata para mufasssirin : “Bentuk yang sebaik-baiknya itu ada dalam hal fisik juga dari segi akal dan kejiwaan.” Namun kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Sejelek-jeleknya manusia, maka lebih canti atau tampan dari binatan yang paling tampan. Tetapi jangan kita terlena, manusia diciptakan dalam “bentuk sbaik-baiknya” bukan “sebaik-baik derajat”. Bukan


Karena sekalipun manusia sebaik-baik bentuk, ia bisa terjatuh derajatnya sebagaimana firman Allah dalam QS. 95 : 5


“Kemudian dia Kami jatuhkan ke derajat yang paling rendah”.
Jadi apalah artinya manusia itu cantik tapi dia tidak tunduk kepada syari’at, tidak melaksanakan shalat, maka orang ini sama dengan binatang. Hakikat amalannya sama dengan binatang yang tidak dibebani syari’at, tidak diberikan akal, bahkan dia bisa lebih rendah daripada binatang.
Sebagaimana disebutkan dibeberapa tempat di dalam Al-Quran :
1. QS. 8 : 22
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah oang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun”
Orang tuli adalah orang yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah, telinganya hanya digunakan untuk mendengarkan musik.
Dan orang yang bisu adalah orang yang tidak mau mengatakan kebenaran.
Ada 2 sebab seseorang tidak mengatakan kebenaran :
- Memang tidak tahu
- Tahu kebenaran itu tapi didominasi hawa nafsu.
Mereka inilah sejelek-jelek binatang melata yaitu orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
2. QS. 8 : 55
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.”
Orang yang tidak beriman adalah orang yang tidak beribadah kepada Allah. Pada hakikatnya ibadah adalah tunduk dan taat kepada syari’at Allah, kapada Al-Quran dan Sunnah, pada keyakinannya, hatinya, lisan serta perbuatannya. Intinya adalah tunduk dan patuh kepada Allah. Siapa yang membangkang kepada syari’at Allah maka dia tidak beribadah.
Allah telah mengatur, seluruh kehidupan ada syari’atnya. Sebagai contoh dalam hal pergaulan, ada yang syar’i, ada yang tidak syar’i. Yang tidak syar’i contohnya pacaran. Syari’at melarang pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram diluar pernikahan.
Orang-orang yang tidak mau menjalankan syariat inilah yang derajatnya bisa lebih rendah dari binatang.
3. QS. 7 : 179
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Allah telah dengan tegas memberi celaan yang sangat jelek bagi manusia seperti itu. Dan neraka jahannam dipenuhi oleh manusia palsu (dengan ciri-ciri seperti ayat di atas) dan jin. Selain manusia dan jin tidak ada makhluk lain yang masuk ke neraka. Tidak ada binatang yang masuk ke neraka, kalaupun ada bukan materi binatangnya yang disiksa tapi dia dijadikan penyiksa.
4. QS. 7 : 176
Manusia yang cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing.
5. QS. 5 : 60
Manusia yang dijadikan kera dan babi. Yang dimaksud adalah orang yahudi.
6. QS. 2 : 74
Manusia yang keras hatinya seperti batu.
7. QS. 63 : 4
Manusia seakan-akan kayu yang tersandar, maksudnya ialah untuk menyatakan sifat mereka yang jelek meskipun tubuh-tubuh mereka bagus dan mereka pandai bicara tetapi sebenarnya otak mereka kosong tidak dapat memahami kebenaran.

III. Hakikat Kehidupan
Tujuan utama dari memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya agar kita tidak tertipu oleh dunia.
Ada sebuah kaidah :
Fikrah akan melahirkan keyakinan, keyakinan melahirkan keinginan dan keinginan melahirkan sikap.
Fikrah diibaratkan input pada diri manusia, sikap kita adalah outputnya.
Sikap ada 2:
- Islamiy
- Jahiliy
Sikap tergantung pada input-inputnya (pola pikirnya). Dan pola pikir terbentuk dari apa yang banyak dilihat, didengar dan dialami. Sehingga bagaimana seseorang menyikapi kehidupan ini tergantung dari pola pikirnya, dari apa yang dilihat, didengar dan dialaminya.
Sebagaimana QS. 14 : 2-3, menunjukkan perbedaan orang kafir dengan orang beriman yang paling menonjol adalah sikap mereka terhadap dunia.
Orang kafir sangat mementingkan dunia daripada akhirat (hubbuddunya). Dan ciri-ciri orang yang cinta dunia adalah kikir, segalanya diukur dengan materi, boros dan takut mati. Sebab dari hubbuddunya ini adalah karena dia tidak paham akan hakikat kehidupan.
Hakikat kehidupan terbagi 2 :
1. Kehidupan dunia
a. Makna dunia dari segi bahasa
- (dekat/singkat)
QS. 67 : 5
Sesuatu yang dekat tidak memerlukan pengorbanan untuk meraihnya.
- Hina
Hadits Jibril ra ….. (Riyadhus Sholihin Bab Zuhud Hadits no.8)
b. Ujian
QS. 67 : 2
Dunia beserta isinya adalah ujian.
c. Fatamorgana
QS. 14 : 18
Orang-orang kafir amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras
d. Dilaknat
Hadits dari Abu Hurairah ra
(Riyadhus Shalihin Bab Zuhud Hadits no. 22)
e. Sifat-sifat dunia
QS. 57 : 20
Allah mengabarkan di dalam ayat ini tentang hakikat dunia, yaitu :
 permainan
 senda gurau
 perhiasan
 bermegah-megahan
 berbanyak-banyakan
QS. 3 : 185 Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayai. Sekiranya dunia ini berharga
2. Kehidupan akhirat
Sifat kehidupan akhirat :
1) Kesengsaraan yang kekal
QS. 11 : 106-107 Orang-orang yang celaka tempatnya kekal di neraka.
2) Kesenangan yang kekal
QS. 11 : 108 Orang yang berbahagia tempatnya kekal di surga.
Maka kehidupan akhirat inilah kehidupan yang hakiki/yang sebenarnya. Dimana manusia kekal di dalamnya.
QS. 29 : 64
“… Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan…”


By Muh.Qasim Saguni

MENYINGKAP FENOMENA GHAIB SECARA SYAR’I*

MENYINGKAP FENOMENA GHAIB SECARA SYAR’I*

Urgensi Judul

1. Judul ini berkaitan dengan aqidah, dimana aqidah merupakan fondasi dari ajaran Islam

2. Meluruskan pemahaman-pemahaman dan penyikapan yang keliru tentang fenomena ghaib

3. Memberikan pencerahan yang syar’I (Insya Allah) tentang fenomena ghaib

4. Menambah keyakinan (ziyadatul Iman ) dari satu sisi ayat-ayat Allah SWT

Pengertian Ghaib dan Jenis-jenisnya

Ghaib artinya sesuatu yang tersembunyi (tidak dijangkau oleh indera manusia), lawat kata dari syahadah.

Allah SWT dzat dan sifaNya adalah ghaib. Ia adalah Rabb (Khaliq) sedangkan selainnya adalam ‘Aalam (makhluq).

‘Aalam yang diciptakan oleh Allah SWT terdiri atas aalam syahadah ( dapat diindera) dan aalam ghaib. Adapun yang termasuk ‘aalam ghaib adalah malaikat, jin, syurga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala jenis adzabnya.

Mempercayai Yang ghaib adalah bagian dari Keimanan

Mempercayai Yang ghaib adalah merupakan kewajiban bagi setiap manusia dan merupakan bagian dari Keimanan (Lihat QS. 2: 2-3). Eksistensi perkara-perkara ghaib ini tidak dapat terbantahkan dengan dalil realitas,terutama fenomena keberadaan Jin. Karena itu menolak (tidak mempercayai) eksistensi yang ghaib akan membatalkan keimanan (Kufur).

Beberapa Fenomena Malaikat

1. Menampakkan dirinya

2. Menyerupakan diri dalam wujud seorang lelaki

3. Mengobati (meruqyah)

4. Tidak ada keterangan merasuki tubuh manusia. Pemahaman/pengakuan kemasukan salah satu malaikat adalah pemahaman sesat

Beberapa Fenomena Jin

1. Penampakan

2. Gentayangan

3. Kesurupan/Kerasukan

4. Sihir

5. Pesugihan

6. Tenaga Dalam

7. Hipnotis

8. Meramal

9. Menculik

10. Menghilang dan pindah-pindah tempat

11. Pengobatan

Penyikapan Yang salah terhadap fenomena ghaib

1. Mengaku sebagai Nabi

2. Tidak percaya yang ghaib

3. Ketakutan/paranoid

4. Menjadi Tukang sihir/bekerja sama dengan jin dengan alasan ia adalah jin Muslim

5. Menggunakan jasa tukang sihir (paranormal, orang pintar, dll)

Solusi yang Syar’i

1. Mendalami aqidah Salafus Shalih dalam memahami dan menyikapi fenomena ghaib

2. Menjadikan Al Qur’an sebagai obat (Ruqyah )

3. Komitmen dengan syari’at Islam

4. Membentengi diri dengan rajin beribadah dan berdzikir yang sesuai sunnah Rasulullah SAW

5. Tidak takut dan kelabakan

Wallahu Ta’ala A’laa wa A’lam

*Muhammad Qasim Saguni, disajikan dalam Seminar Islami “ Ruqyah Syar’iyyah” diselenggarakan Oleh Forum Studi Raudhatun Nisaa Universitas Islam Negeri Alauddin, Sabtu 30 Dzulqa’dah 1426H- 31 Desember 2005M,